MJC Dorong Digitalisasi 2.574 Pasar Rakyat di Jawa Timur
SURABAYA — Pemerintah daerah diusulkan melibatkan talenta muda lewat program Millennial Job Center (MJC) untuk mendigitalisasi 2.574 pasar rakyat di Jawa Timur. Inisiatif ini bertujuan memperluas pemasaran pedagang sekaligus membuka lapangan kerja berbayar bagi generasi muda.
Skema keterlibatan talenta muda
Indriani Yulia Mariska, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, menyatakan talenta muda dapat membantu pedagang dengan membuat katalog digital, mengelola WhatsApp Business, serta memproduksi foto dan video produk. Langkah ini dipandang mampu meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah pergeseran pola belanja masyarakat.
"MJC harus mampu membuka peluang kerja yang nyata bagi generasi muda. Di sisi lain, pedagang pasar membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usaha. Keduanya bisa dipertemukan melalui proyek yang jelas dan berbayar," kata Indriani di Surabaya, Rabu (14/10/2026).
Proyek percontohan dan target awal
Indriani mengusulkan proyek percontohan MJC Pasar Rakyat melibatkan organisasi perangkat daerah, pengelola pasar, dan paguyuban pedagang. Tahap awal dirancang berlangsung tiga bulan dengan target melibatkan 100 talenta muda.
Rencana itu akan mendampingi 200 pedagang melalui 100 paket proyek berbayar. Skema pembayaran menjadi unsur penting agar keterlibatan talenta muda bersifat profesional dan berkelanjutan.
Pengukuran keberhasilan dan evaluasi
Anggota Komisi E DPRD Jatim itu menekankan pentingnya evaluasi anggaran dan capaian MJC 2026. Indikator keberhasilan menurutnya harus melampaui jumlah peserta pelatihan.
"Kita perlu memastikan ada kebutuhan nyata yang bisa dikerjakan, ada proyeknya, dan ada pembayaran atas pekerjaan tersebut," ujarnya.
Evaluasi disarankan mengukur jumlah peserta yang memperoleh proyek berbayar, kesinambungan pendapatan mereka, serta perkembangan usaha pedagang setelah pendampingan.
Manfaat ganda dan prospek
Program ini dirancang memberi manfaat ganda: memperkuat usaha pedagang pasar dan menciptakan pekerjaan berbayar bagi pemuda. Indriani menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan harus melihat dampak langsung pada penghasilan talenta muda dan pertumbuhan usaha pedagang.
"Yang ingin kita dorong adalah program yang manfaatnya dirasakan kedua belah pihak. Jadi, dampaknya harus bisa diukur, bukan sekadar dihitung dari jumlah peserta pelatihan," pungkasnya.
Jika direalisasi, skema ini dapat menjadi model kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola pasar, dan komunitas muda dalam era digitalisasi ekonomi lokal.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Banyuwangi Gelar Operasi Katarak Gratis, 817 Warga Terdaftar
Pemkab Banyuwangi bersama PMI dan JFF menggelar operasi katarak gratis 13–18 Okt 2026; 817 daftar dan 400–45...
Hj Ansari Salurkan Alat Bantu Dengar untuk Nenek 100 Tahun
Hj. Ansari menyalurkan alat bantu dengar lewat Program ATENSI kepada Nenek Suidah (100) di Pamekasan, sebaga...
Bantuan Air Bersih Didistribusikan ke 3 Desa Terdampak Kekeringan di Bangkalan
Anggota DPRD Bangkalan, Nur Hakim, menyalurkan air bersih dengan armada tangki ke tiga desa terdampak kekeri...
DPRD Jember Minta Data KHDPK Usai Dugaan Pungli hingga Rp28 Juta
DPRD Jember minta Cabang Dinas Kehutanan buka data KHDPK setelah warga lapor dugaan pungutan hingga Rp28 jut...
PDI Perjuangan Soroti Komposisi APBD Sumenep 2027
PDI Perjuangan minta penjelasan soal alokasi belanja tidak terduga yang lebih besar dari belanja modal dalam...
Deni Wicaksono: Toleransi Jadi Modal Pembangunan Trenggalek
Wakil Ketua DPRD Jatim Deni Wicaksono mengajak warga Trenggalek memupuk toleransi sebagai modal pembangunan,...