Gen Z Diminta Ubah Simpati Jadi Aksi Pelestarian Mangrove
I Komang Triska Ananda Dilivianugraha Priantara, pegiat lingkungan, mendorong generasi Z mengubah kepedulian menjadi aksi nyata dalam pelestarian alam. Pernyataan itu disampaikan saat kegiatan penanaman mangrove yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di Tahura Ngurah Rai, Denpasar Selatan, Bali, pada Kamis, 3 September 2026. Kegiatan melibatkan sekitar 50 mahasiswa Universitas Udayana dan bertujuan memperkuat peran pemuda dalam menjaga ekosistem pesisir.
Kegiatan penanaman mangrove
Penanaman mangrove dilaksanakan di kawasan Tahura Ngurah Rai dengan partisipasi mahasiswa dan ahli dari Universitas Udayana sebagai bentuk kolaborasi pentaheliks. Kegiatan ini bukan hanya menanam bibit, tetapi juga membangun kapasitas dan rasa memiliki terhadap lingkungan pesisir. BLDF menyebut inisiatif semacam ini sebagai langkah konkret untuk mitigasi dan perlindungan kawasan pesisir yang berkelanjutan.
Dorongan ubah simpati menjadi empati
Ananda menilai generasi Z memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan, namun kepedulian itu belum selalu berujung pada tindakan langsung. Menurutnya, kesadaran lingkungan kerap berkembang melalui media sosial, sehingga tantangan berikutnya adalah mendorong pemuda turun ke lapangan.
Selama ini generasi Z sering dikesalkan dengan sebutan generasi strawberry yang dianggap lembek dan instan. Padahal, sebenarnya generasi ini justru sangat sadar dan peduli terhadap isu lingkungan.
Ia menegaskan bahwa simpati hanya rasa kasihan, sedangkan empati membutuhkan keberanian untuk terlibat langsung. Untuk itulah, menurutnya, diperlukan wadah konkret agar simpati berubah menjadi aksi nyata.
Makna budaya dan harapan ke depan
Ananda mengaitkan upaya pelestarian dengan kearifan lokal Bali, termasuk filosofi Tri Hita Karana. Ia juga menekankan unsur budaya dalam membangun keterikatan masyarakat terhadap lingkungan pesisir.
Ketika teman-teman menanam (mangrove) di suatu tempat, itu akan menumbuhkan rasa memiliki. Kalau bagi masyarakat Bali, rasanya seperti ‘taksu’ atau ari-arinya ikut tertanam di sana, dan ini yang membedakan pergerakan kita.
Ia berharap inisiatif ini melahirkan agen perubahan dari kalangan mahasiswa dan peneliti muda. Menurut Ananda, tidak perlu banyak orang untuk memulai gerakan; satu hingga sepuluh orang yang aktif bisa menjadi pemantik gerakan lebih luas di kalangan pemuda.
Dengan langkah praktis seperti penanaman mangrove dan kolaborasi antar-institusi, Ananda berharap generasi Z bisa menunjukkan peran nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menaker Targetkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Selesai Oktober 2026
Menaker Yassierli menargetkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan rampung akhir Oktober 2026 untuk memperkuat p...
Menkomdigi Imbau Tenang dan Waspada Pasca Erupsi Anak Krakatau
Menkomdigi Meutya Hafid imbau masyarakat tenang dan waspada setelah erupsi Anak Krakatau; pantau kanal resmi...
Mendagri Minta Pemda Siapkan WFH bagi ASN Akibat Erupsi Krakatau
Mendagri Tito Karnavian minta pemda terdampak erupsi Krakatau tingkatkan kewaspadaan, bagikan masker, dan te...
Survei ASI: 51,5% Warga Dukung Kelanjutan Program MBG
Survei ASI: 51,5% responden setuju program Makan Bergizi Gratis dilanjutkan, sementara 45,4% menolak dan 3,3...
Ahli: Aktivitas Gunung Api Berdekatan adalah Fenomena Wajar
Ahli kebencanaan: aktivitas berdekatan beberapa gunung api di Indonesia adalah fenomena geologi wajar; masya...
Mendikdasmen: Daerah Terdampak Anak Krakatau Sesuaikan Belajar
Mendikdasmen minta daerah terdampak erupsi Anak Krakatau sesuaikan pembelajaran berdasarkan indeks pencemara...