Politik

Gadingan Jadi Panggung Demokrasi, Hasto Singgung Ancaman Populisme

Bagikan:
Pendopo Desa Budaya Gadingan dengan pertunjukan gamelan dan tarian saat Welcome Dinner CALD 4 September 2026

Yogyakarta — Puluhan delegasi internasional menghadiri Welcome Dinner CALD Conference di Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat 4 September 2026. Acara berlangsung di pendopo terbuka dengan gamelan, tarian anak, dan sambutan dari Hasto Kristiyanto yang menekankan peran kebudayaan dalam menjaga ketahanan demokrasi menghadapi populisme otoriter.

Welcome Dinner di Pendopo Gadingan

Acara malam itu bukan pesta formal hotel. Para peserta konferensi duduk di pendopo tradisional, disambut pertunjukan seni lokal dan keramahan warga. Hasto hadir bersama istrinya, Maria Stefani Ekowati, serta tokoh politik, akademisi, dan pengamat yang mengikuti konferensi.

Suasana sederhana itu dimanfaatkan Hasto untuk menyampaikan gagasan bahwa demokrasi juga tumbuh dari praktik kebudayaan sehari-hari, bukan semata ruang formal politik.

Kebudayaan sebagai Benteng Demokrasi

Hasto mengaitkan pemilihan Gadingan dengan akar kelahirannya dan tradisi agraris yang membentuk nilai kebersamaan. Ia menilai kebudayaan memiliki kekuatan untuk mempertahankan ruang kebebasan saat demokrasi mendapat tekanan eksternal.

"Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya. Namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan,"

Gamelan: Pelajaran Harmoni

Penampilan gamelan menjadi inti demonstrasi nilai yang dimaksud Hasto. Ia menggambarkan gamelan sebagai metafora demokrasi, di mana tiap instrumen berbeda namun menghasilkan harmoni ketika dimainkan bersama.

"Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni,"

Menurut Hasto, demokrasi membutuhkan kemampuan mengelola perbedaan, bukan memaksakan keseragaman. Kekuasaan harus mempertanggungjawabkan diri kepada rakyat sebagai bagian dari komitmen moral demokrasi.

Delegasi Tergerak oleh Pertunjukan

Delegasi dari sejumlah negara menyaksikan tari dan musik dalam suasana santai. Moritz Kleine-Brockhoff, Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation Asia, menyatakan terkesan oleh kehangatan dan penampilan anak-anak di panggung.

"Pidato dan sambutan hangat ini sungguh menyentuh hati saya. Melihat anak-anak menari dan alunan musik gamelan sangat menggerakkan perasaan,"

Ia juga memberi penilaian tentang posisi partai yang hadir sebagai penjaga nilai-nilai toleransi dan demokrasi, pernyataan yang disambut hangat peserta.

Demokrasi yang Turun dari Panggung

Pertunjukan Sendratari Ramayana dan tari joged mengubah suasana: batas antara tamu dan tuan rumah menjadi cair. Delegasi diajak naik panggung, menari bersama warga. Momen ini memperlihatkan praktik kebersamaan yang dianggap Hasto sebagai latihan demokrasi.

Penutup

Welcome Dinner di Gadingan menegaskan pesan bahwa ketahanan demokrasi dapat diperkuat melalui kebudayaan dan interaksi sosial sehari-hari. Dari gamelan, tarian, dan keramahtamahan lokal, delegasi belajar bahwa menjaga harmoni di tengah perbedaan juga merupakan bentuk pelestarian demokrasi.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait