Bapanas Dorong Budidaya Lobster untuk Ketahanan Pangan Daerah
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong pengembangan budidaya lobster sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi daerah dan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Dorongan itu disampaikan saat Bapanas mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Instalasi Telong-Elong, BPBL Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis, 3 September 2026.
Kunjungan dan pernyataan resmi
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas, Rachmad Firdaus, menilai lobster memiliki potensi besar untuk menambah ketersediaan protein hewani sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. Bapanas mengusulkan pengembangan yang disesuaikan karakteristik lokal dan didukung kebijakan terpadu.
Ini merupakan potensi yang sangat baik. Utamanya dalam rangka penguatan ketahanan pangan dari sektor perikanan,
Rachmad menegaskan bahwa optimalisasi pangan daerah harus menyesuaikan sumber daya tiap wilayah agar manfaat ekonomi menyebar dan memperkuat perekonomian nasional.
Kendala di tingkat pembudidaya
Pada kunjungan tersebut, nelayan dan pelaku usaha mengungkapkan berbagai kendala teknis dan finansial yang menghambat pengembangan. Masalah yang muncul meliputi permodalan, ketersediaan benih, pakan, serta sarana keramba yang memadai.
- Keterbatasan akses modal untuk skala pembesaran
- Kekurangan benih dan pakan berkualitas
- Sarana keramba dan fasilitas pendukung yang minim
- Keterbatasan freezer untuk penyimpanan pakan
- Fluktuasi harga jual lobster di pasar
Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menyoroti kebutuhan fasilitas penyimpanan sebagai masalah utama pembudidaya lokal.
Di samping KJA yang sederhana itu. Mereka sangat-sangat kekurangan yang namanya freezer,
Upaya penguatan ekosistem budidaya
Pihak Bapanas dan Komisi IV DPR RI sepakat pengembangan lobster harus membangun ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah yang diusulkan mencakup dukungan teknologi pendederan, penyediaan pakan, pembiayaan, serta kepastian pasar dan kelembagaan.
Akselerasi budidaya lobster tidak dapat dilakukan setengah-setengah,
kata Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, menekankan perlunya sinergi antar-pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan usaha pembudidaya.
Rangka tindakan yang direkomendasikan antara lain:
- Penyediaan fasilitas pendederan dan freezer bersama
- Skema pembiayaan mikro atau kredit yang terjangkau
- Pendampingan teknis untuk benih dan pakan
- Pembaruan kelembagaan dan akses pasar yang lebih pasti
Dampak pada ketahanan pangan dan prospek
Bapanas menilai pengembangan lobster sejalan dengan Perpres Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan. Lobster sebagai komoditas pangan akuatik atau blue food dinilai mampu memperkaya sumber protein nasional.
Pengembangan yang terencana dan didukung teknologi, infrastruktur, permodalan, serta pasar diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pembudidaya, pelaku usaha, dan lembaga pendukung.
Jika hambatan hulu seperti benih, pakan, dan fasilitas penyimpanan dapat diatasi serta pasar dipastikan, potensi lobster Indonesia diperkirakan dapat berkembang menjadi sektor perikanan bernilai tambah tinggi dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...