Nasional

Kemdiktisaintek Minta Fleksibilitas Akademik untuk Mahasiswa NTT

Bagikan:
Ilustrasi mahasiswa dan kampus terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meminta perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menerapkan fleksibilitas akademik bagi mahasiswa terdampak gempa magnitudo 7,7, Selasa, 18 Agustus 2026. Tujuannya menjaga keberlanjutan pendidikan sambil memprioritaskan keselamatan sivitas akademika di wilayah terdampak.

Penyesuaian proses belajar mengajar

Menteri Brian Yuliarto menegaskan keselamatan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan menjadi prioritas utama sebelum kegiatan akademik dilanjutkan. Ia menyampaikan kebijakan penyesuaian agar proses pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi darurat.

"Dalam situasi bencana seperti ini, yang pertama harus kita pastikan adalah keselamatan sivitas akademika. Setelah itu kita bersama-sama memastikan proses pendidikan tetap dapat berjalan dengan penyesuaian yang diperlukan," kata Brian.

Perguruan tinggi dianjurkan mempertimbangkan metode pembelajaran alternatif ketika kondisi infrastruktur dan jaringan memungkinkan. Jika situasi lapangan belum aman, jadwal dan kegiatan yang memaksa kehadiran fisik dapat ditunda.

Ruang lingkup fleksibilitas

Fleksibilitas akademik mencakup berbagai aspek kegiatan kampus. Kebijakan ini dirancang agar mahasiswa tidak dirugikan akibat kondisi darurat pascagempa.

  • Perkuliahan (tatap muka diganti dengan pembelajaran jarak jauh bila perlu)
  • Praktikum
  • Ujian
  • Tugas akhir dan sidang
  • Penelitian dan kegiatan akademik lainnya

Perguruan tinggi diberi keleluasaan untuk menyesuaikan format, jadwal, dan persyaratan akademik sesuai kondisi setempat. Namun, keputusan pembukaan kembali kegiatan tatap muka harus berdasarkan penilaian keamanan fasilitas.

Koordinasi dan respons pemerintah

Selain himbauan akademik, pemerintah pusat terus melakukan penanganan darurat dan percepatan pemulihan di Flores dan sekitarnya. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyatakan tim pemerintah sudah berada di lapangan sejak hari pertama untuk meninjau dan menindaklanjuti kebutuhan mendesak.

"Sejak hari pertama kejadian kami sudah berada di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas percepatan pemulihan," kata Pratikno.

Kemdiktisaintek juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lain dalam memastikan keselamatan sivitas akademika serta mendukung respons institusi terhadap masyarakat terdampak.

Implikasi dan langkah berikut

Penerapan fleksibilitas diharapkan memperkecil gangguan akademik bagi mahasiswa sambil memberi ruang bagi proses pemulihan. Perguruan tinggi diminta menilai kondisi setiap lokasi secara berkala dan menginformasikan perubahan kebijakan kepada sivitas secara transparan.

Ke depan, pemantauan keamanan fasilitas dan kesiapan infrastruktur digital menjadi kunci agar kebijakan fleksibilitas dapat dijalankan efektif tanpa mengorbankan mutu pendidikan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait