Nasional

Erupsi Anak Krakatau Terus Berlangsung, PVMBG Pantau Intensif

Bagikan:
Kolom letusan Gunung Anak Krakatau dengan semburan lava merah dan abu vulkanik

Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kepala PVMBG Rita Susilawati menyebut aktivitas terus berlangsung sejak kenaikan status menjadi Level 3 (Siaga)

Pemantauan Intensif PVMBG

PVMBG mengoperasikan dua pos pengamatan untuk Anak Krakatau, yakni di Pasauran dan Kalianda. Kedua pos ini dimanfaatkan untuk memantau perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung secara real time.

“Melakukan pemantauan terhadap gunung-gunung api aktif yang ada di Indonesia, termasuk gunung api Anak Krakatau. Nah, di untuk khusus untuk Anak Krakatau ini kami memiliki dua stasiun pengamatan yang ada di Pasauran dan juga yang ada di Kalianda,”

Kronologi Erupsi Terbaru

Sejarah besar Krakatau tercatat pada 1883 yang memicu tsunami dahsyat. Pada 22 Desember 2018, longsoran dan erupsi sebagian tubuh Anak Krakatau juga memicu tsunami di sekitar Selat Sunda. Setelah peristiwa 2018, gunung ini mengalami erupsi berskala rendah sebagai fase konstruksi hingga 16 Desember 2023.

Aktivitas meningkat kembali pada 2 Juli 2026 sehingga status dinaikkan ke Level 3 (Siaga). Menurut PVMBG, letusan kembali terjadi pada 31 Agustus, dan erupsi lanjutan berlangsung pada 5–6 September 2026 dimulai pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB.

“Cukup lama berlangsung hingga kembali Gunung Anak Krakatau ini erupsi di tanggal 2 Juli 2026, sehingga levelnya juga kita naikkan. Dari waspada menjadi level 3 (Siaga), nah, 31 Agustus juga ada letusan, dan tadi malam juga ada letusan,”

Pengamatan Visual dan Potensi Bahaya

Petugas di pos Pasauran melaporkan suara gemuruh dari erupsi yang berlangsung terus-menerus. Ketinggian kolom erupsi sulit diukur, namun terlihat semburan berwarna merah menyala dan lontaran batu pijar.

PVMBG menegaskan potensi bahaya saat ini terutama berasal dari aliran lava disertai lontaran batu pijar serta kemungkinan hujan abu dan awan panas pada jarak dekat.

Imbauan Keselamatan

PVMBG meminta warga dan pengunjung sekitar untuk mematuhi batas aman yang ditetapkan dan meningkatkan kewaspadaan. Rekomendasi resmi meliputi:

  • Mematuhi radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
  • Menghindari perairan dan pantai yang dekat dengan gunung pada masa erupsi aktif.
  • Menyiapkan masker atau penutup hidung untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
  • Segera mengikuti arahan otoritas jika terjadi peningkatan aktivitas atau ancaman awan panas.

“Perlu tetap mewaspadai ya wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau, ini agar tetap dipatuhi. Juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar serta hujan abu lebat,”

Sampai saat ini status Gunung Anak Krakatau tetap Level 3 (Siaga) dan pemantauan intensif terus dilakukan oleh PVMBG. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dan tidak mendekati zona berbahaya sampai kondisi dinyatakan aman.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait