Nasional

PMI Alihkan Penanganan Gempa NTT ke Fase Pemulihan

Bagikan:
Relawan PMI membangun shelter dan mendistribusikan bantuan pasca gempa di Pulau Flores

Palang Merah Indonesia (PMI) mulai mengalihkan penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dari fase tanggap darurat ke pemulihan awal pada 4 September 2026. Perubahan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mendorong kemandirian pengungsi di tujuh kabupaten Pulau Flores.

Layanan PMI di tujuh kabupaten

PMI melayani tujuh kabupaten di Pulau Flores dengan berbagai layanan. Cakupan bantuan meliputi distribusi logistik, layanan kesehatan, pendampingan psikososial, promosi kesehatan, dan pemulihan hubungan keluarga.

  • Distribusi logistik dan bantuan darurat
  • Layanan kesehatan melalui tim medis dan mobile clinic
  • Pendampingan psikososial dan promosi kesehatan
  • Pelayanan Restoring Family Link untuk memulihkan hubungan keluarga

"Di tujuh kabupaten di Pulau Flores, PMI membentuk tim tenaga medis dengan mekanisme mobile klinik. Kemudian kami melakukan pendampingan psikososial, promosi kesehatan, dan juga layanan-layanan khususnya terkait dengan Restoring Family Link," ujar Adrian Jeharun, Kepala Divisi Pelayanan Markas PMI Provinsi NTT.

Peralihan dari tanggap darurat ke pemulihan awal

Menurut Adrian, penanganan memasuki tahap kedua rencana penanggulangan bencana, sehingga pendekatan berubah. Fokus kini pada mengarahkan pengungsi menuju kondisi lebih mandiri dan mengaktivasi shelter sementara.

"Di tujuh kabupaten ini sekarang sudah ada perubahan pendekatan dari sifatnya tanggap darurat menuju ke pemulihan awal. Jadi setiap kabupaten mengarahkan para pengungsi terpusat menjadi pengungsi mandiri dan mulai mendukung serta mengaktivasi shelter sementara," ujar Adrian.

Kebutuhan shelter dan sekolah darurat

Peralihan ini meningkatkan kebutuhan akan hunian sementara. PMI mulai mendukung pembangunan shelter, termasuk program pembangunan di Kabupaten Ngada. Selain itu, muncul permintaan untuk sekolah darurat karena sejumlah fasilitas pendidikan rusak.

Permintaan sekolah darurat mencakup semua jenjang, dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan.

Air bersih dan pengelolaan logistik

Kebutuhan air bersih menjadi tantangan utama, diperparah kondisi kekeringan yang juga melanda Flores. PMI memobilisasi sembilan unit tangki air untuk tujuh kabupaten serta menjalankan pengelolaan air di Kecamatan Reok melalui Water Treatment Plant.

Di Reok, fasilitas itu mampu memproduksi sekitar 10.000 liter air setiap hari. Untuk memperkuat distribusi, PMI membangun gudang pembantu (hub) di Labuan Bajo.

Kapal kemanusiaan juga mendistribusikan sekitar 280 ton bantuan ke tujuh kabupaten berdasarkan asesmen kebutuhan masyarakat terdampak.

Dukungan lanjutan dan prospek

Organisasi kemanusiaan lain juga melanjutkan pendampingan setelah fase tanggap darurat berakhir. Caritas Indonesia menyatakan akan memberikan layanan kesehatan dan psikososial serta melakukan pengkajian untuk jangka enam bulan ke depan.

"Prioritas kami adalah menyediakan layanan kesehatan dan psikososial bagi masyarakat terdampak. Kami juga menyiapkan pengkajian untuk enam bulan ke depan karena kami masih akan membantu mereka," kata Romo Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia.

Peralihan fokus dari darurat ke pemulihan awal menandai tahap penting dalam respons pasca-gempa di Flores. Pemenuhan kebutuhan hunian sementara, pendidikan, dan air bersih akan menjadi prioritas utama dalam beberapa bulan ke depan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait