Nasional

Nusantara Rising: KADIN Perkuat Soft Power Budaya Indonesia

Bagikan:
Panggung Ideafest 2026 di JICC saat peluncuran Nusantara Rising oleh KADIN

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Kebudayaan, Rahayu Saraswati, mendorong pengelolaan budaya sebagai soft power nasional yang strategis. Pernyataan itu disampaikan usai pembukaan Ideafest 2026 di Jakarta International Convention Center, Jumat, 4 September 2026. KADIN meluncurkan Indonesia's Soft Power Paper dan memperkenalkan gerakan kolaboratif bernama Nusantara Rising untuk mengubah kekayaan budaya menjadi kekuatan global melalui ekonomi kreatif.

Kekayaan budaya sebagai modal soft power

Rahayu menekankan bahwa Indonesia memiliki modal budaya yang sangat luas. Jika dikelola, modal ini bisa menjadi sumber identitas dan pengaruh di dunia.

Ia merinci unsur-unsur budaya yang menjadi aset nasional, antara lain:

  • Lebih dari 1.300 suku bangsa
  • Ratusan bahasa hidup
  • Ribuan tradisi dan cerita rakyat
  • Musik, tari, kuliner, dan wastra
  • Peninggalan peradaban yang kaya

"Kita memiliki lebih dari 1300 suku bangsa, ratusan bahasa hidup, ribuan tradisi, cerita rakyat, musik, tari, dan kuliner. Kebudayaan adalah sumber identitas, nilai, cerita, karakter, dan jiwa bangsa, sedangkan ekonomi kreatif menjadi mesin penggeraknya,"

— Rahayu Saraswati, usai pembukaan Ideafest 2026

Dari ide ke peta aksi: Indonesia's Soft Power Paper

KADIN bersama pelaku industri dan pemangku kepentingan menyusun Indonesia's Soft Power Paper. Dokumen ini dimaksudkan sebagai fondasi dan peta awal untuk memperkuat pengaruh budaya Indonesia secara terencana.

Menurut Rahayu, dokumen itu bukan sekadar konsep, melainkan acuan untuk menghubungkan sektor budaya dengan dunia usaha dan kebijakan publik.

Nusantara Rising: gerakan kolektif

Sebagai tindak lanjut, KADIN meluncurkan Nusantara Rising — sebuah gerakan kolektif untuk menyatukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas budaya, dan pemangku kepentingan lain.

"Soft power Indonesia memang tidak bisa dibangun sendirian, tidak bisa hanya oleh pemerintah maupun dunia usaha saja. Kekuatan tersebut tumbuh ketika semua unsur saling terhubung dan bergerak bersama secara strategis membangun pengaruh nasional,"

— Rahayu Saraswati

Dampak ekonomi dan diplomasi

Rahayu menjelaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan mesin yang mengubah budaya menjadi produk bernilai. Hasilnya meliputi karya, kekayaan intelektual, lapangan kerja, ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan strategi kolaboratif, KADIN berharap budaya Indonesia tidak hanya jadi tontonan seremonial, tetapi menjadi daya tarik dan pengaruh di panggung global.

Ke depan, langkah KADIN adalah menyosialisasikan soft power paper dan memperluas partisipasi dalam Nusantara Rising agar upaya ini berjalan terukur dan berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait