Dampak Gempa NTT: 40.040 Pengungsi, Manggarai Timur Terbanyak
Gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 memaksa sedikitnya 40.040 orang mengungsi. Data sementara BNPB menunjukkan Kabupaten Manggarai Timur menampung pengungsi terbanyak, yaitu sekitar 15.465 orang.
Jumlah pengungsi dan kondisi di Manggarai Timur
Berdasarkan catatan Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, angka pengungsian masih bersifat sementara. BNPB mengingatkan bahwa jumlah pengungsi tidak otomatis menjadi indikator besaran kerusakan bangunan.
"Karena sebagian warga memilih meninggalkan rumah akibat kekhawatiran terhadap kondisi pascagempa. Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa,"
- Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data BNPB
BNPB merinci bahwa dari 15.465 pengungsi di Manggarai Timur, sekitar 966 orang tercatat di posko BPBD, sedangkan sekitar 14.000 orang mengungsi secara mandiri ke lokasi yang dianggap lebih aman.
Korban jiwa, luka, dan rumah rusak
Data sementara BNPB mencatat dampak korban dan kerusakan sebagai berikut. Angka-angka ini masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
| Lokasi | Pengungsi | Meninggal | Luka Berat | Luka Ringan |
|---|---|---|---|---|
| NTT (total sementara) | 40.040 | 25 | 442 | 513 |
| Kab. Manggarai Timur | 15.465 | - | - | - |
| Kab. Manggarai | 6.487 | 27 | 31 | 88 |
BNPB juga mencatat 11.925 unit rumah rusak di wilayah terdampak. Rinciannya sebagai berikut:
| Tingkat Kerusakan | Jumlah |
|---|---|
| Rusak Berat | 5.516 |
| Rusak Sedang | 1.916 |
| Rusak Ringan | 4.493 |
| Total | 11.925 |
Daerah lain yang terdampak dan fokus penanganan
Selain Manggarai Timur dan Manggarai, BNPB menyebutkan beberapa kabupaten lain yang mengalami kerusakan rumah cukup tinggi dan menjadi fokus penanganan, yakni:
- Kabupaten Nagekeo
- Kabupaten Manggarai Barat
- Kabupaten Ngada
Rencana kunjungan Presiden
Pemerintah mempertimbangkan kunjungan Presiden untuk melihat kondisi masyarakat dan perkembangan penanganan bencana di lapangan. Namun rencana kunjungan masih menunggu kesiapan situasi dan dukungan logistik agar tidak mengganggu proses penanganan darurat.
"Sedang direncanakan. Kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan bukan kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu,"
- Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara
Pemerintah menegaskan pemantauan penanganan gempa terus dilakukan dari pusat. Langkah berikutnya akan disesuaikan berdasarkan data di lapangan dan kebutuhan mendesak warga terdampak.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Seni Tradisional Bawa Kedamaian di Era Modern, Pameran di TIM
Pameran Art for Peace di TIM (18 Agustus 2026) menegaskan peran seni tradisional memberi kedamaian batin di...
AHY Pastikan Evakuasi Korban Bencana NTT Dipercepat
Menko AHY pastikan evakuasi korban bencana NTT dipercepat hingga tuntas, disertai perbaikan infrastruktur da...
Pemerintah Kerahkan 40 Armada Udara untuk Tangani Karhutla
Pemerintah mengerahkan 40 armada udara pada 19 Agustus 2026 untuk memperkuat penanganan karhutla, termasuk d...
BMKG: Kekeringan Meluas Saat Puncak Kemarau 2026
BMKG peringatkan kekeringan meluas saat puncak kemarau 2026; El Nino dan IOD positif kurangi hujan, Nusa Ten...
Bea Cukai Ungkap Oknum Bandara Terlibat Penyelundupan Emas
Bea Cukai mendeteksi oknum petugas Bandara Soekarno-Hatta terlibat penyelundupan 30 keping emas 22,317 kg se...
Polri Cepat Tangani Gempa NTT, Boni Hargens Apresiasi Sinergi
Polri merespons cepat penanganan gempa NTT pada 18 Agustus 2026, menyalurkan bantuan dan berkoordinasi denga...