DPR Dukung Pemanfaatan CSR dan Kantin Sekolah untuk SPPG
Komisi IX DPR mendukung pemanfaatan dana CSR dan peran kantin sekolah untuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pernyataan itu disampaikan bersama pada Jumat, 5 Juni 2026, menyusul inisiatif Badan Gizi Nasional (BGN) memperluas sumber daya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuan utamanya adalah mempercepat jangkauan layanan gizi bagi ibu hamil, anak, dan kelompok rentan.
Dukungan DPR dan alasan kebijakan
Anggota Komisi IX, Edy Wuryanto, menilai keterlibatan dunia usaha lewat CSR sesuai dengan semangat gotong royong di Indonesia. Ia menekankan bahwa dukungan swasta dapat memperkuat program negara tanpa mengubah peran pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan.
"Kalau dana CSR bisa dikelola untuk mendukung program negara, itu sangat bagus. Ada nilai spiritual dan sosial di dalamnya berbagi makanan merupakan ibadah yang mulia,"
Menurut Edy, model ini sekaligus menunjukkan cara kolaborasi publik-swasta yang berorientasi pada perbaikan status gizi kelompok rentan.
Peran CSR dan kantin sekolah
Komisi IX melihat CSR sebagai sumber pembiayaan alternatif yang layak untuk mendukung operasional SPPG. Selain dana CSR, kantin sekolah juga diusulkan dimanfaatkan untuk memproduksi makanan bergizi bagi program MBG.
Penggabungan kedua sumber tersebut diharapkan meningkatkan kepastian pasokan makanan dan memastikan program berjalan lebih tepat sasaran serta berkelanjutan.
Rencana BGN: fokus pada pembangunan SPPG
Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, menyatakan BGN siap melakukan penyesuaian operasi. Salah satu langkah konkret adalah melibatkan kantin sekolah dalam produksi MBG untuk memperluas distribusi dan efisiensi program.
"Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Fokus utama BGN saat ini adalah memastikan setiap anggaran dan sumber daya yang menghasilkan dampak yang optimal," ujar Nanik.
BGN juga mengarahkan prioritasnya pada percepatan pembangunan SPPG agar layanan dapat menjangkau lebih banyak wilayah, khususnya daerah tertinggal, terpencil, dan terluar (3T).
Dampak dan tantangan pelaksanaan
Ekspansi model dapur berbasis sekolah atau kitchen by school dinilai layak dan telah diterapkan di beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Namun, implementasi skala nasional membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan pelaku usaha.
Ke depan, keberhasilan rencana ini akan bergantung pada tata kelola dana CSR, standar gizi yang konsisten, serta mekanisme pengawasan untuk memastikan manfaat sampai ke kelompok sasaran.
Persiapan dan sinergi antarlembaga menjadi kunci untuk mewujudkan SPPG yang efektif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Diduga Korsleting, 70 Rumah di Kampung Adat Sukabumi Terbakar
Kebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, 25 Juli 2026, meludeskan 70 rumah sehingga 420 warga kehilan...
Pemerintah Siapkan 2.000 Kampung Nelayan untuk Kesejahteraan
Pemerintah akan membangun 2.000 kampung nelayan mulai 2026, lengkap balai lelang, pabrik es, cold storage, d...
Pemerintah Percepat Program Makan Bergizi Gratis dalam Dua Tahap
Pemerintah percepat program Makan Bergizi Gratis dalam dua tahap: satu bulan fokus 3T dan pondok pesantren,...
Kemkomdigi Raih Predikat Kualitas Tertinggi Tanpa Maladministrasi
Kemkomdigi mendapat predikat kualitas tertinggi tanpa maladministrasi dari ORI untuk 2024–2025 dengan skor 8...
Wamenko: Ketahanan Pangan Kian Menguat, Stok Beras 5 Juta Ton
Pemerintah perkuat ketahanan pangan dengan cadangan beras 5 juta ton; stok dinilai cukup hadapi El Nino dan...
Pertagas Gelar Office Adventure Day Rayakan Hari Anak Nasional
Pertagas menggelar Office Adventure Day pada 25 Juli 2026, menghadirkan ruang bermain edukatif bagi 35 anak...