BRIN Perkenalkan Teknologi Pengendalian Rayap di Borobudur
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Zoologi Terapan memperkenalkan teknologi pengenalan dan pengendalian rayap kepada masyarakat Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 15 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman ancaman rayap terhadap bangunan dan aset kayu serta memperkenalkan solusi pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.
Kegiatan, tujuan, dan konteks
Kegiatan pelatihan berlangsung untuk memberi pengetahuan praktis tentang identifikasi rayap dan langkah mitigasi dini. BRIN menekankan pemanfaatan hasil riset untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. Peserta terdiri dari warga setempat, pemangku kepentingan, dan aparat kecamatan.
Jenis rayap dan tanda serangan
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa rayap hidup berkoloni dengan pembagian kasta, seperti raja, ratu, prajurit, dan pekerja. Di alam, rayap membantu daur ulang bahan organik. Namun, koloni yang berkembang di pemukiman dapat merusak material berbasis selulosa.
"Permasalahan muncul ketika koloni rayap berkembang di sekitar pemukiman dan memanfaatkan material berbahan selulosa sebagai sumber makanan," ujar Agus.
Agus menjelaskan dua jenis yang sering ditemui di Indonesia yakni rayap tanah dan rayap kayu kering. Rayap tanah membangun terowongan dari tanah menuju sumber makanan. Sementara rayap kayu kering dapat hidup langsung dalam kayu dengan kadar air rendah.
Tanda awal serangan meliputi:
- Adanya lorong tanah pada dinding atau pondasi.
- Kayu terdengar kopong saat diketuk.
- Perubahan permukaan kayu seperti retak atau mengelupas.
- Ditemukannya sayap rayap setelah musim perkawinan.
Metode pengendalian ramah lingkungan
Selain identifikasi, BRIN memperkenalkan bahan alami sebagai alternatif pengendalian. Agus menyebut ekstrak biji sirsak dan biji srikaya sebagai opsi yang dapat diaplikasikan pada permukaan kayu.
- Tumbuk biji hingga halus.
- Ekstraksi dengan alkohol 70% selama 24 jam atau perendaman dalam air selama 48 jam.
- Saring larutan dan aplikasikan ke kayu dengan dioles atau dikuaskan berulang.
Langkah ini bertujuan agar bahan aktif meresap optimal ke dalam serat kayu. Agus menekankan pentingnya identifikasi jenis rayap sebelum memilih metode pengendalian.
Dampak, harapan, dan tindak lanjut
Camat Borobudur, Subiyanto, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan sejenis berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Subiyanto.
Diseminasi teknologi ini diharapkan meningkatkan deteksi dini dan mitigasi yang tepat. Dengan demikian, kerugian akibat serangan rayap berpotensi diminimalkan dan pemanfaatan material kayu dapat lebih berkelanjutan.
Berita Terkait
Ledakan Bintang 'Bangkit Lagi' di M83, NASA Temukan Fenomena Tak Biasa
NASA menemukan sisa supernova di galaksi M83 yang berubah kecerlangan drastis, diduga terkait sistem bintang...
NASA Jelaskan Alasannya Kru Tanpa Perempuan di Artemis III
NASA menyatakan pemilihan awak Artemis III dilakukan berdasarkan kebutuhan misi; seluruh awak yang diumumkan...
BRIN Kembangkan Membran Filtrasi dari Limbah Botol PET
BRIN mengembangkan membran filtrasi dari limbah botol PET untuk menjernihkan air sungai dan limbah industri...
Denny JA: Lahirnya Pekerja Digital yang Rentan di Era Algoritma
Denny JA menyebut lahirnya 'pekerja digital yang rentan' akibat kapitalisme algoritma dan mendesak regulasi...
BRIN Terapkan Hybrid Eco-Engineering Lindungi Pantura Jawa
BRIN mengusung Hybrid Eco-Engineering dengan BRINlock dan integrasi mangrove untuk demplot breakwater di Bek...
Meta: Penyebab Instagram dan Facebook Down Global
Meta menyatakan gangguan Instagram dan Facebook pada 13 Juni 2026 disebabkan kesalahan konfigurasi jaringan...