BRIN Kenalkan Pupuk Slow Release untuk Ubah Kebiasaan Petani
BRIN mendorong petani di Desa Sidowayah, Klaten, mengurangi penggunaan pupuk kimia lewat Slow Release Fertilizer (SRF) yang dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Inovasi ini diuji melalui demplot sejak Agustus 2026 untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara, menjaga produktivitas padi, dan mengubah kebiasaan pemupukan berlebih.
Tujuan dan skema pengembangan SRF
Peneliti Pendamping Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, menyatakan SRF dikembangkan melalui demplot di Desa Sidowayah. Tujuannya bukan hanya menjaga hasil panen, tetapi juga merubah kebiasaan pemupukan berlebihan di kalangan petani.
"Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan rizosfer tanah," kata Agus, Senin 10 Agustus 2026.
Cara kerja dan komposisi Formula B
Formula B bekerja dengan melepaskan unsur hara secara bertahap sehingga tanaman menyerap nutrisi lebih efisien tanpa menambah dosis pupuk kimia. Pada Demplot II, petani dilatih membuat SRF menggunakan jumlah Urea, SP36, dan Kalium yang lebih rendah.
Bahan baku dienkapsulasi dengan beberapa bahan organik dan mineral:
- Arang tempurung kelapa
- Arang sekam
- Bahan organik
- Zeolit
Pendampingan untuk ubah perilaku petani
Gapoktan setempat mengakui praktik pemupukan berlebih masih umum. Ketua Gapoktan Desa Sidowayah, Jaenuri, mengungkapkan kekhawatiran petani bila tidak memberikan pupuk banyak, padi tidak berbunga.
"Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga," ujar Jaenuri.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, menekankan pentingnya pendampingan agar perubahan teknologi juga mengubah perilaku petani, tidak sekadar uji coba di lahan percontohan.
"Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian," kata Gutomo.
Pengendalian hama dan praktik budidaya
Selain pemupukan, BRIN menerapkan PHT untuk mengantisipasi peningkatan hama Wereng Batang Coklat (WBC). Strategi PHT yang disosialisasikan meliputi:
- Pemilihan varietas tahan wereng, seperti Inpari 32 WBC dan Bioni 63
- Pemantauan hama secara rutin
- Penerapan tanam serentak
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, menegaskan pengendalian WBC efektif bila dilakukan sejak dini.
Skala demplot dan rencana komersialisasi
Program SRF sudah melewati Demplot I seluas 3.300 m2 dan kini memasuki Demplot II seluas 3.200 m2. BRIN juga mendorong model usaha berbasis koperasi bersama Gapoktan agar SRF tidak berhenti sebagai teknologi percontohan.
Dengan skema itu, petani berpeluang memproduksi SRF untuk kebutuhan sendiri dan pasar lokal. BRIN menargetkan riset ini memberi manfaat langsung berupa efisiensi pupuk, pengendalian hama, peningkatan produktivitas, dan pengembangan usaha petani.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Siswa Kurangi Gawai dan Baca 10 Menit Sehari
Seorang siswa di Jakarta kurangi gawai dan baca 10 menit tiap hari, sejalan upaya pemerintah menggiatkan kem...
Putaran LINK Melambat, Katalyst Space Siapkan Manuver ke Swift
Katalyst Space menurunkan putaran LINK jadi 1,47°/s dan siapkan pembaruan perangkat lunak untuk melanjutkan...
Indonesia-Jepang Kembangkan Persinyalan MRT Jakarta
Indonesia dan Jepang menandatangani HoA untuk kembangkan persinyalan MRT Jakarta pada 3 Agustus 2026 di Toky...
BRIN Kembangkan Implan Magnesium Biodegradable Tahan Korosi
BRIN mengembangkan pelapisan multifungsi pada paduan magnesium WE43 untuk implan biodegradable yang tahan ko...
Sekolah STEM dan AI Hadir di Tangerang 2027, Siapkan Beasiswa
Sekolah berbasis STEM dan AI di CitraRaya, Tangerang siap buka Juli 2027 dengan beasiswa dan kebijakan inklu...
BRIN Kembangkan Sistem Triase AI untuk Bantu Dokter IGD
BRIN kembangkan sistem triase AI berbasis LLM untuk membantu dokter IGD menentukan prioritas pasien sesuai s...