BMKG Tegaskan Tidak Pernah Pakai Istilah 'Godzilla' untuk El Nino
BMKG Godzilla bukan istilah yang pernah digunakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menggambarkan fenomena El Nino, kata Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, dalam keterangan tertulis, 21 Juni 2026. Pernyataan itu menyanggah pemberitaan yang menyebut istilah tersebut terkait El Nino 2026.
BMKG Godzilla ditegaskan kembali agar publik tidak keliru memahami istilah nonstandar. BMKG menegaskan selalu memakai istilah yang terstandar internasional untuk menjelaskan intensitas El Nino dan dampaknya di Indonesia.
Penjelasan BMKG tentang istilah dan fenomena
Supari menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena penyimpangan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Karena itu, El Nino terjadi di wilayah Samudera Pasifik dan bukan "bergerak" atau "merambat" menuju Indonesia.
Untuk memberikan gambaran tentang intensitas El Nino, BMKG selalu menggunakan istilah yang terstandar internasional yang mudah dipahami. Istilah Godzilla bukan merupakan istilah standar dan BMKG tidak pernah menggunakan istilah tersebut.
Dengan penjelasan itu BMKG ingin meluruskan bahwa penyebutan El Nino "di Indonesia" adalah kurang tepat. Namun, meskipun pusat fenomena berada jauh di Pasifik, dampaknya terhadap Cuaca di Indonesia nyata dan perlu diantisipasi.
Dampak El Nino terhadap cuaca Indonesia
BMKG memaparkan bahwa dampak utama El Nino bagi Indonesia adalah Musim Kemarau yang lebih kering dan lebih panjang. Curah hujan diperkirakan berkurang terutama pada periode Juni hingga November, sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat.
Berdasarkan pembaruan BMKG pada 12 Juni 2026, prediksi El Nino 2026 menunjukkan kemungkinan mencapai intensitas moderate dengan peluang 100 persen, dan peluang mencapai intensitas kuat sebesar 86 persen. Supari menambahkan bahwa kondisi kering ini telah mulai terasa dan diprediksi berlangsung hingga awal 2027.
Proyeksi dan langkah antisipasi
BMKG menganjurkan pemerintah daerah, sektor pertanian, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penurunan curah hujan. Langkah mitigasi meliputi pengelolaan sumber air, peringatan dini kebakaran lahan, serta penyesuaian musim tanam.
Penegasan BMKG ini dimaksudkan untuk memperjelas terminologi publik dan mengarahkan perhatian pada langkah antisipasi yang faktual. Ke depan, BMKG akan terus memperbarui prediksi dan memberi peringatan cuaca sesuai standar internasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendagri Waspadai Gempa Susulan di NTT, Penanganan Dimulai di Pelabuhan
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan potensi gempa susulan di NTT; Kementerian PU akan asesmen kerusakan di...
Seskab: 253 Ton Bantuan Logistik Telah Dikirim ke NTT
Seskab Teddy menyatakan pemerintah telah mengirimkan 253 ton bantuan logistik ke NTT; lima pesawat berangkat...
BMKG: 2.768 Gempa Susulan Guncang Flores Setelah M7,7
BMKG mencatat 2.768 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores hingga 19 Agustus 2026; terbesar M6,2, 81 kej...
KPK: Korupsi Tak Selalu Berbentuk Uang, Bisa Lewat Kebijakan
KPK mengingatkan korupsi tak selalu berbentuk uang; kebijakan yang dimanipulasi bisa merugikan publik dan li...
KPK Kaitkan Korupsi Kebijakan dengan Kerusakan Hutan Kalimantan
KPK menyebut korupsi kebijakan ikut memicu kerusakan hutan Kalimantan; isu ini diangkat dalam Youth Camp 202...
Kemenhub Perkuat Pengawasan Keselamatan Pelayaran
Kemenhub memperkuat pengawasan keselamatan pelayaran dengan pemeriksaan muatan dan stabilitas kapal sebelum...