BRIN Ubah Bakteri Ungu Jadi Sel Surya Bio-fotovoltaik
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sel surya bio-fotovoltaik berbasis pigmen fotosintesis bakteri ungu Rhodobacter sphaeroides. Penelitian dipaparkan oleh Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Tulus, pada 4 Juni 2026. Inovasi ini memanfaatkan protein kompleks RC-LH1 untuk menyerap cahaya dan mengonversinya menjadi listrik dengan pendekatan ramah lingkungan dan biaya potensi lebih rendah.
Prinsip kerja dan komponen perangkat
Tim peneliti menggunakan protein kompleks fotosintesis reaction center-light harvesting 1 (RC-LH1) sebagai lapisan aktif penyerap cahaya. Lapisan biologis ini digabungkan dengan beberapa lapisan semikonduktor untuk memisahkan muatan saat terpapar sinar matahari.
Rangkaian elektroda dirancang berlapis, dengan indium tin oxide (ITO), zinc oxide (ZnO), dan fullerene (C60) sebagai katoda untuk mengumpulkan elektron. Sebaliknya, molibdenum oksida dan perak berfungsi sebagai anoda untuk mengumpulkan hole. Di antara kedua elektroda tersebut terletak material RC-LH1 yang mengubah energi cahaya menjadi arus listrik.
“Material biologis tersebut dikombinasikan dengan berbagai lapisan semikonduktor untuk menghasilkan pemisahan muatan listrik ketika terpapar cahaya matahari,”
Keunggulan biologis dan tantangan teknis
Bakteri ungu yang digunakan tidak patogen dan terkenal memiliki efisiensi fotosintesis tinggi. Menurut tim, sistem fotosintesis alami ini memiliki efisiensi kuantum tinggi dan kemampuan pemisahan muatan yang baik, sehingga cocok untuk aplikasi bio-solar cell.
Hasil awal menunjukkan perangkat mampu menghasilkan nilai open circuit voltage yang sangat tinggi untuk kategori bio-fotovoltaik padat. Namun tim mencatat tantangan tersisa pada peningkatan arus listrik agar efisiensi keseluruhan naik.
“Sepengetahuan kami, capaian ini masih menjadi salah satu hasil terbaik pada bidang bio-fotovoltaik padat untuk parameter open circuit voltage. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan arus yang dihasilkan agar efisiensi keseluruhan perangkat semakin tinggi,”
Kolaborasi internasional dan prospek
Riset ini merupakan hasil kolaborasi BRIN dengan para peneliti internasional, termasuk akademisi dari University of Bristol dan Vrije Universiteit Amsterdam. Kerja sama itu bertujuan merancang sel surya inovatif yang mendukung transisi ke energi bersih dan berkelanjutan.
Selain menawarkan alternatif hijau pada fotovoltaik generasi ketiga, teknologi ini juga membuka peluang peningkatan nilai tambah biomassa bakteri ungu. BRIN berharap pengembangan skala lanjut dapat menurunkan biaya produksi dan memperkuat posisi Indonesia di ranah penelitian fotovoltaik baru.
Dengan kombinasi material biologis dan struktur semikonduktor, penelitian ini menunjukkan potensi nyata untuk sel surya yang lebih berkelanjutan dan ekonomis di masa depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...