Aprindo Dukung Pemerintah Meski Rupiah Tembus Rp18.000
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memberi semangat kepada pemerintah meski nilai tukar rupiah terus melemah dan dolar AS menembus Rp18.000. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Aprindo Solihin di Tangerang, Kamis, 4 Juni 2026, bersamaan dengan laporan kinerja positif PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) yang membagikan dividen.
Aprindo minta ketenangan menghadapi gejolak nilai tukar
Ketua Umum Aprindo, Solihin, menegaskan pelaku usaha ritel harus tetap optimis dan berdikari menghadapi tekanan nilai tukar. Ia meminta agar semangat tidak padam karena situasi yang fluktuatif.
"Begini, siapapun pengusaha pada saat ini tahukan kondisinya kita siap-siap menghadapi suatu kondisi. Saya sebagai Ketua Umum Aprindo terus memberikan semangat jangan sampai kondisi begini kita enggak semangat, entar malah parah lagi,"
Solihin berharap setelah dolar AS menembus Rp18.000, situasi segera kembali stabil. Ia mengibaratkan kondisi yang naik-turun dapat membuat pelaku usaha dan konsumen cemas.
"Ya, enggak spora jantung gitu loh, naik, naik, naik gitu loh, semoga cepat stabil,"
Dampak pelemahan rupiah pada harga dan daya beli
Menurut Solihin, pelemahan rupiah otomatis mendorong kenaikan harga di ritel karena biaya pembelian barang meningkat. Hal ini berimplikasi langsung pada keputusan penetapan harga di gerai-gerai ritel.
"Loh, kalau belinya wis (sudah) mahal, piye toh? Ya kan? Iya, betul. Ya kan?"
Ia juga menyoroti penurunan daya beli masyarakat yang menurutnya bukan masalah baru dan hingga kini masih berlangsung, setidaknya mirip dengan kondisi yang terjadi di Bangladesh dan Filipina.
Alfamart: kinerja positif dan pembagian dividen
Optimisme di sektor ritel juga tercermin dari langkah Alfamart. Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya, Tomin Widian, menyatakan perseroan membagikan dividen Rp1,7 triliun dari laba bersih tahun buku 2025 berdasarkan keputusan RUPS.
"Jumlah dividen yang dibagikan itu berkisar di Rp1,7 triliun atau per sahamnya di Rp41,5 per saham,"
Tomin menyebut jumlah dividen tersebut naik sekitar 40 persen dibandingkan pembagian dividen tahun buku 2024.
Presiden Direktur Alfamart, Anggara Hans Prawira, melaporkan perseroan mencatat pendapatan Rp126,74 triliun dan laba tahun berjalan Rp3,41 triliun. Anggara menilai capaian ini menunjukkan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja meski ada tekanan eksternal.
"Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan perseroan dalam mempertahankan kinerja usaha ditengah tekanan eksternal, melanjutkan tren pertumbuhan pada tahun sebelumnya,"
Untuk perbandingan, tahun sebelumnya perseroan membukukan pendapatan Rp118,23 triliun dan laba bersih Rp3,15 triliun.
Pandangan Aprindo dan realisasi kinerja Alfamart menggambarkan bagaimana pelaku ritel menyeimbangkan optimisme bisnis dengan realitas kenaikan biaya. Ke depan, industri ritel diperkirakan fokus menjaga layanan, memperkuat kanal daring, dan menahan penutupan gerai sambil menanti stabilisasi nilai tukar.
Berita Terkait
Java Man Segera Dipulangkan, Menbud: Sudah Masuk Tahap Pengemasan
Koleksi Java Man sedang dikemas dan akan dipulangkan dalam beberapa bulan; pemerintah menargetkan penempatan...
Wapres Gibran: Calon Pemimpin Harus Peka pada Masyarakat
Wapres Gibran minta calon pemimpin peka dan aktif berdialog dengan masyarakat; contoh hambatan distribusi pu...
Jadwal & Aturan OSN 2026: Kategori AI dan Kuota Finalis
Kemendikdasmen merilis jadwal OSN 2026 dengan kategori baru SMA termasuk AI dan pengawasan diperketat; final...
Pendaftar OSN 2026 Lampaui 941.692, Naik 17% dari 2025
Pendaftar OSN 2026 mencapai 941.692 peserta, naik 17% dari 2025; penyelenggara menekankan integritas, pemera...
Pendaftar OSN 2026 Tembus 941.692, Naik 17%
Pendaftar OSN 2026 mencapai 941.692 peserta, naik 17% dari 2025; Kemendikdasmen tekankan pembinaan karakter...
Kemendikdasmen Perketat Pengawasan OSN 2026 Cegah Kecurangan
Kemendikdasmen perketat pengawasan OSN 2026 dengan empat lapis kontrol dan sanksi tegas untuk mencegah kecur...