Lokal

Algoritma Bernegara: Rocky Gerung Minta Kampus Jaga Nalar Kritis

Bagikan:
Rocky Gerung berbicara di Seminar Nasional Algoritma Bernegara di Unimed

MEDAN — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rocky Gerung memperingatkan bahwa masa depan bangsa terancam jika nalar kritis kalah oleh kepentingan material, politik transaksional, dan ambisi kekuasaan. Pernyataan itu disampaikan saat ia menjadi narasumber Seminar Nasional Algoritma Bernegara di Universitas Negeri Medan (Unimed), Jumat (23/10).

Perguruan tinggi sebagai benteng nalar kritis

Rocky menekankan peran kampus tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai penjaga tradisi berpikir rasional. Di depan sekitar 1.500 mahasiswa, ia menyebut kapasitas perguruan tinggi diuji oleh kemampuannya membentuk kebiasaan menguji gagasan secara rasional.

"Masa depan bangsa terancam ketika nalar kritis dikalahkan oleh kepentingan material, politik transaksional, dan kekuasaan."

Ia menyebut Unimed dengan sekitar 45.000 mahasiswa sebagai contoh potensi intelektual yang besar. Menurut Rocky, potensi ini hanya bermakna jika kampus merawat kebebasan berpikir dan membentuk generasi yang berani mempertanyakan setiap gagasan.

Ancaman politik transaksional

Rocky memperingatkan risiko ketika aktivitas politik praktis menawarkan keuntungan cepat yang menggoyah integritas akademik. Ia menggambarkan situasi di mana dukungan modal berubah menjadi hubungan transaksional yang mengorbankan kepentingan publik.

Karena itu, setiap kebijakan politik perlu diuji berdasarkan argumentasi rasional, bukti memadai, dan dampak terhadap kepentingan publik. Masyarakat tidak boleh menerima gagasan semata karena didukung tokoh berpengaruh atau modal besar.

Peran mahasiswa dan pengawasan publik

Plt. Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah, Hariqo Wibawa Satria, menegaskan pentingnya kebebasan berpikir dan kualitas gagasan dalam kehidupan bernegara. Ia meminta ruang publik tetap terbuka bagi kritik tanpa rasa takut kriminalisasi.

"Kehidupan bernegara yang sehat membutuhkan kebebasan berpikir, kualitas gagasan, kecepatan merespons persoalan, serta keberanian mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan."

Hariqo juga mengingatkan mahasiswa agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi digital. Mereka harus mengolah informasi menjadi pengetahuan kritis yang dapat menawarkan solusi nyata.

Ia menyoroti pentingnya pengawasan publik terhadap program pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk mendeteksi potensi penyimpangan dan memastikan akuntabilitas.

Tanggung jawab akademik dan prospek politik

Rektor Unimed Prof. Dr. Baharuddin ST M.Pd meminta kampus menjadi ruang terbuka bagi pertukaran perspektif dan pengujian gagasan secara rasional. Seminar ini, menurutnya, merupakan momentum memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan bangsa.

Rocky memperkirakan dalam 18 bulan ke depan wacana politik akan semakin dominan menjelang pemilu. Oleh karena itu, kampus harus aktif menguji rekam jejak serta orientasi calon pemimpin, bukan sekadar menjadi penonton dalam dinamika politik.

Pesan utama seminar ini mempertegas bahwa algoritma bernegara sejatinya berkaitan dengan kualitas berpikir masyarakat, bukan semata mekanisme teknis. Perguruan tinggi dan masyarakat wajib menjaga tradisi berpikir kritis agar keputusan publik dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait