Lokal

Puluhan Santri Diduga Keracunan Saat Hari Santri di Deliserdang

Bagikan:
Santri dirawat di rumah sakit setelah dugaan keracunan massal di Deliserdang

Deliserdang — Puluhan santri dari Pondok Pesantren Mazilah Darussalam diduga mengalami keracunan massal usai menyantap nasi bungkus pada peringatan Hari Santri Nasional Tingkat Provinsi Sumatera Utara, Kamis 22 Oktober, di alun-alun Pemkab Deliserdang, Lubuk Pakam. Korban mulai dirawat di beberapa rumah sakit sejak Jumat 23 Oktober shubuh karena mual, muntah, dan sakit perut.

Kronologi dan gejala

Menurut pimpinan pondok, masalah muncul beberapa jam setelah makan siang acara Hari Santri. Para santri mulai merasakan sakit pada tengah malam dan pada pagi hari banyak yang terkapar dan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Gejala yang dilaporkan meliputi sakit perut, mual, dan muntah sehingga pengelola pesantren merujuk korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Saat ini beberapa santri masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Jenis konsumsi yang diduga menyebabkan keracunan

Pimpinan Ponpes menjelaskan konsumsi disediakan oleh Pemkab Deliserdang melalui bagian Kesejahteraan Rakyat. Dari empat jenis lauk yang disediakan, santri pesantren tersebut mendapatkan salah satu jenis yang diduga bermasalah.

  1. Nasi kotak dengan lauk daging
  2. Nasi bungkus dengan lauk ayam
  3. Nasi bungkus dengan ikan nila yang tampak bagus
  4. Nasi bungkus ikan nila yang berlendir dan berbau (diduga penyebab)

Pimpinan pondok menyebut kelompok mereka menerima jenis keempat dan total ada 55 orang yang mengonsumsi paket tersebut.

Tanggapan pesantren dan Pemkab

Pimpinan Ponpes Mazilah Darussalam meminta Pemkab Deliserdang bertanggung jawab atas kejadian ini. Ia juga menyampaikan jumlah santri yang masih dirawat dan adanya laporan dari beberapa pondok pesantren lain.

'Pemkab tanggung jawab,' tegas Muhammad Fahrul Yusuf.

Dari pihak pemerintah daerah, Kabag Kesra Deliserdang menyatakan telah menerima kabar musibah dan akan mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi para santri. Pemkab juga menegaskan kesiapan untuk bertanggung jawab atas kasus ini.

'Ini saya mau ke rumah sakit dulu mau lihat kondisi mereka,' ujar Gento Herlambang dari Kesra.

Penanganan dan kondisi terkini

Pihak pondok merujuk korban ke beberapa rumah sakit, antara lain klinik dan rumah sakit setempat, untuk penanganan medis. Hingga laporan ini dibuat, pimpinan pondok menyebut ada 32 santri yang masih opname.

Pengelola pesantren dan pihak Pemkab diharapkan melakukan klarifikasi lebih lanjut dan pemeriksaan terhadap sumber makanan. Keluarga serta warga menunggu hasil pemeriksaan medis dan tindak lanjut resmi dari pemerintah daerah.

Implikasi

Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu konsumsi pada acara publik, terutama yang melibatkan anak-anak dan santri. Proses klarifikasi dan penanganan medis menjadi langkah krusial untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait