Teknologi

BRIN Dorong AI dan Sensor untuk Kurangi Risiko Kecelakaan Perlintasan

Bagikan:
Ilustrasi perlintasan kereta dilengkapi sensor LIDAR dan palang otomatis

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong modernisasi sistem pengamanan perlintasan kereta dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan sensor otomatis untuk menurunkan risiko kecelakaan. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu, 16 Mei 2026, sebagai respons terhadap tingginya insiden di perlintasan sebidang di berbagai daerah Indonesia.

Peran kelistrikan dan pasokan daya

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, menekankan pentingnya sistem kelistrikan untuk keselamatan perjalanan kereta. Menurutnya, persinyalan harus didukung dengan pasokan listrik yang stabil melalui penggunaan Uninterruptible Power Supply (UPS).

Ia menambahkan bahwa palang pintu dan sirine perlintasan harus dapat berfungsi meski terjadi gangguan kelistrikan mendadak. Untuk Kereta Rel Listrik (KRL), pemeriksaan kabel aliran atas juga menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan operasional.

AI dan sensor sebagai pengaman tambahan

BRIN mendorong penerapan teknologi AI dan sensor tambahan untuk memperkuat sistem pengamanan otomatis di perlintasan. Sensor yang disebutkan antara lain axle counter dan LIDAR, yang dinilai mampu meningkatkan akurasi deteksi keberadaan kereta dan objek di rel.

  • Axle counter untuk menghitung poros roda kereta.
  • LIDAR untuk memetakan objek di area perlintasan secara real-time.

"Modernisasi atau otomatisasi penuh sistem pengaman perlintasan sebidang adalah suatu keharusan untuk mengurangi insiden. Inovasi persinyalan berbasis kecerdasan artifisial dibutuhkan agar sistem pengamanan perlintasan dapat bekerja otomatis sepenuhnya," ujar Eka.

Kekhawatiran medan magnetik terhadap kendaraan

BRIN turut menanggapi kekhawatiran publik soal kemungkinan kendaraan mogok akibat gelombang elektromagnetik dari kereta. Hasil penelitian BRIN menunjukkan medan magnet sekitar rel masih berada dalam batas aman untuk kendaraan dan manusia.

"Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan medan magnet bumi yang setiap hari dihadapi manusia tanpa masalah. Kendaraan tidak akan terganggu selama telah memenuhi standar uji imunitas radiasi medan elektromagnetik internasional resmi," kata Eka.

Inovasi material perlintasan: Rubber Crossing Plate

Perekayasa Ahli Madya BRIN, Ade Sholeh Hidayat, memperkenalkan Rubber Crossing Plate, pelat perlintasan berbahan karet yang dirancang menggantikan material konvensional seperti beton dan aspal.

"Material tersebut juga mampu meredam getaran tinggi serta tahan terhadap cuaca ekstrem dan beban kendaraan berat," ujar Ade.

Ade menjelaskan pelat karet ini memiliki permukaan rata, elastis, dan anti-slip sehingga dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan kenyamanan berkendara di perlintasan.

Implikasi dan langkah ke depan

Integrasi AI, sensor, dan material baru seperti Rubber Crossing Plate memberi opsi berlapis untuk menurunkan kecelakaan di perlintasan sebidang. Ke depan, uji lapangan, standar keselamatan, dan dukungan pasokan listrik cadangan perlu diprioritaskan agar teknologi dapat dioperasikan andal dan berkelanjutan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait