Ma'ruf Amin Ziarah ke Makam Mbah Wahab Jelang Muktamar NU
K.H. Ma'ruf Amin melakukan ziarah ke makam K.H. Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kunjungan itu bagian dari rangkaian persiapan Muktamar ke-35 NU dan dimaksudkan untuk menghormati pendiri serta mendoakan kelancaran forum organisasi.
Tujuan ziarah dan suasana kegiatan
Kegiatan ziarah berlangsung setelah prosesi tahlil di kompleks makam Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Ma'ruf Amin hadir didampingi istrinya, Wury Estu Handayani, dan menutup rangkaian dengan doa bersama. Acara ini menjadi momen spiritual sekaligus penghormatan bagi para pendiri Nahdlatul Ulama.
Siapa Mbah Wahab dan warisannya
K.H. Abdul Wahab Chasbullah, yang akrab disebut Mbah Wahab, adalah salah satu tokoh pendiri NU pada 1926 bersama Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Bisri Syansuri. Ia mendirikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang menjadi salah satu basis pendidikan pesantren di Jawa Timur.
Selain pengembangan pendidikan pesantren, Mbah Wahab dikenal karena pemikirannya tentang hubungan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Pemikiran itu kini menjadi bagian penting dari khazanah wacana NU tentang kehidupan beragama dan bernegara.
Hubungan ziarah dengan Muktamar ke-35
Ziarah ke makam para pendiri NU menjelang muktamar merupakan tradisi organisasi. Momentum ini difungsikan sebagai refleksi spiritual sebelum peserta memasuki agenda pengambilan keputusan penting di forum tertinggi NU.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-30 Agustus 2026. Forum akan membahas sejumlah isu strategis, termasuk pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
Persiapan dan dampak lokal
Menjelang muktamar, kawasan Tambakberas mulai dipadati tokoh NU dan muktamirin dari berbagai daerah. Yayasan Bahrul Ulum aktif mendukung persiapan dan kelancaran rangkaian kegiatan, sehingga logistik serta penyambutan peserta berjalan lebih terkoordinasi.
Selain itu, kehadiran banyak delegasi berdampak pada aktivitas sosial-ekonomi lokal, seperti meningkatnya kebutuhan penginapan, konsumsi, dan layanan transportasi.
Tradisi ziarah ini menegaskan keterkaitan spiritual dan organisatoris dalam kultur NU, sekaligus mengingatkan peserta muktamar pada akar sejarah dan nilai-nilai pendiri saat memasuki proses deliberasi penting organisasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kementerian HAM: Suara Masyarakat Sipil Jadi Dasar Kebijakan
Kementerian HAM memastikan suara masyarakat sipil menjadi dasar kebijakan HAM melalui Forum Konsultasi HAM 2...
Puan: DPR Terbuka Terima Aspirasi Publik, Ikuti Mekanisme
Puan Maharani pastikan DPR terbuka menerima aspirasi publik, asalkan mengikuti mekanisme dan mengajukan sura...
PU Perkuat Penanganan Kekeringan dan Karhutla di Kalimantan
Kementerian PU menyalurkan 10.000 liter air dan menerjunkan personel pemadam untuk atasi kekeringan dan karh...
Polda Metro Sita Puluhan Sajam dan Bahan Molotov Jelang Aksi
Polda Metro Jaya menyita puluhan sajam, airsoft gun, jeriken bensin, dan 201 botol diduga molotov saat penga...
Polda Metro Jaya Amankan 65 Orang Diduga Terafiliasi Kelompok Anarko
Polda Metro Jaya mengamankan 65 orang diduga terafiliasi kelompok anarko menjelang aksi di DPR/MPR; polisi m...
Dukcapil Nagekeo Percepat Dokumen Kependudukan untuk Korban Gempa
Dukcapil Nagekeo jemput bola cetak e-KTP dan akta lahir bagi pengungsi gempa sejak 25 Agustus 2026 untuk men...