Politik

Tiga Wasit Perempuan Bertugas di Soekarno Cup 2026 Bangkalan

Bagikan:
Tiga perangkat pertandingan perempuan di Stadion Gelora Bangkalan saat Soekarno Cup 2026

Bangkalan — Tiga perangkat pertandingan perempuan bertugas dalam laga Banteng Papua Tengah kontra Banteng Sulawesi Selatan pada Soekarno Cup 2026, Sabtu 15 Agustus 2026, di Stadion Gelora Bangkalan. Kehadiran mereka memberi pengalaman langsung sekaligus membuka ruang bagi perempuan dalam dunia perwasitan sepak bola Jawa Timur.

Tiga wasit perempuan di lapangan

Ketiga perangkat pertandingan itu adalah Eka Nurul Permatasari dari Kabupaten Kediri sebagai asisten wasit pertama, Syawalia Nur Widianti dari Kota Batu sebagai asisten wasit kedua, dan Mellenia Dinda Saputri dari Kota Batu yang bertugas sebagai fourth official. Mereka menjalankan tugas pada pertandingan yang berjalan kompetitif dan mendapat perhatian penonton.

Peluang langka bagi wasit wanita

Eka menilai keterlibatan dalam ajang seperti Soekarno Cup merupakan kesempatan langka bagi wasit perempuan di Jawa Timur. Ia menyebut frekuensi event yang melibatkan wasit wanita masih terbatas, sehingga kesempatan bertugas pada turnamen besar terasa istimewa.

Menurutku ini suatu keberuntungan bagi seorang perempuan yang ada di Jawa Timur. Karena kesempatan bagi saya untuk terjun ke asisten wasit itu sangat minim kalau mau ke event-event seperti ini. Karena di sini kan jarang event wanita, hanya setahun sekali.

Eka menambahkan bahwa pengalaman ini bermanfaat untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan. Ia berharap kesempatan serupa bisa membuka jalur untuk menapaki level perwasitan yang lebih tinggi.

Nah, ini untuk ajang kita menambah ilmu dan harapan saya sebagai seorang wasit mungkin akan terjun ke tingkat lebih tinggi lagi. Semoga kita diberi kesempatan lagi.

Dampak dan harapan ke depan

Kehadiran tiga perangkat pertandingan perempuan pada pertandingan ini menunjukkan adanya dorongan untuk memperluas peran perempuan dalam sepak bola. Selain pemain, perempuan kini semakin terlihat dalam peran teknis seperti perwasitan dan pengelolaan pertandingan.

Praktik seperti ini dinilai dapat mendorong pembinaan wasit perempuan, baik melalui pelatihan maupun peluang tampil di turnamen regional dan nasional. Jika frekuensi penugasan meningkat, potensi peningkatan kualitas dan kepercayaan diri wasit perempuan juga ikut naik.

Para pengamat berharap penyelenggara turnamen regional dan klub memberi perhatian lebih pada pengembangan perangkat pertandingan perempuan. Langkah itu dinilai penting untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang inklusif dan berkelanjutan di tingkat provinsi maupun nasional.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait