Ketersediaan Vaksin Rabies di Medan Kembali Normal, Ini Penjelasannya
Medan – Ketersediaan vaksin rabies di beberapa fasilitas kesehatan sempat terlambat karena perubahan sistem pendataan dari pemerintah pusat. Saat ini stok vaksin sudah tersedia dan pelayanan tetap berjalan, meski proses administrasi lebih ketat.
Keterlambatan akibat perubahan sistem
Pelaksana Tugas Direktur RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan, dr. Mardohar Tambunan, M.Kes, mengatakan keterlambatan terjadi karena perubahan kewajiban pendataan pasien. Dulu pendataan cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Sekarang harus mencantumkan nomor telepon pasien.
“Dulu untuk kasus rabies, kita tangani di rumah sakit dan vaksin sudah sesuai kebutuhan. Kenapa sempat terhenti karena ada perubahan sistem pendataan dari pusat. Sekarang selain NIK harus ada nomor telepon, sehingga prosesnya menjadi lebih lambat,”
Pengadaan vaksin mengikuti alur nasional. Vaksin dikirim dari pemerintah pusat ke Dinas Kesehatan Provinsi, lalu ke kabupaten/kota. Perubahan sistem membuat distribusi beberapa bulan sempat tertunda.
Pelayanan tetap berjalan dan jaringan rabies center
Meski distribusi bergantung instansi terkait, rumah sakit menyatakan siap menangani pasien gigitan hewan penular rabies (GHPR).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Medan, dr. Shereivia Faradillah, M.KM, menjelaskan bahwa layanan vaksin tidak hanya tersedia di RSUD Dr. Pirngadi.
- RSUD Dr. Pirngadi
- Puskesmas Bestari
- Puskesmas Sunggal
- Puskesmas Helvetia
- Puskesmas Tuntungan
- Puskesmas Johor
“Jadi kalau vaksin rabies tidak tersedia di Pirngadi, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan di rabies center lainnya. Tidak hanya bergantung pada satu rumah sakit,”
Penetapan kelima puskesmas sebagai rabies center didasarkan pada sebaran wilayah dan jumlah kasus agar jangkauan layanan lebih merata.
Penanganan awal gigitan dan kriteria risiko
Menurut Dinkes, gigitan hewan penular rabies tidak selalu membutuhkan suntikan vaksin segera pada saat kejadian. Penanganan awal yang utama adalah membersihkan luka dan pemberian antiseptik.
“Kalau digigit hari ini tidak harus langsung disuntik. Penanganan awal dilakukan dengan pembersihan luka, pemberian antiseptik, kemudian dilakukan penilaian apakah gigitan tersebut berisiko atau tidak sesuai SOP Kementerian Kesehatan,”
Risiko dianggap tinggi jika gigitan mengenai wajah atau ujung jari. Petugas juga akan mengamati kondisi hewan pelaku. Jika hewan peliharaan mati, baru diberikan vaksin; jika tidak mati, suntikan tidak selalu dilakukan.
Pencegahan dari sumber dan koordinasi lintas sektor
Direktur RSUD Dr. Pirngadi menekankan bahwa pencegahan perlu menarget sumber — yaitu anjing yang terindikasi rabies. Ia mencontohkan praktik di negara lain yang memiliki tim khusus untuk menangkap anjing liar berbahaya.
“Anjing yang gila atau terindikasi rabies harus ada penanganan. Kita juga perlu langkah antisipasi agar tidak terus memakan korban,”
Ia mengimbau dinas terkait untuk meningkatkan pengawasan dan penanganan hewan penular rabies. Kerja sama lintas sektor dinilai penting agar kasus bisa ditekan dan distribusi vaksin lebih tepat sasaran.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
LLDIKTI Rekomendasikan Pindah Kampus UDA ke Dua Lokasi di Medan
LLDIKTI Wilayah I Sumut merekomendasikan pemindahan kampus Universitas Darma Agung ke dua lokasi baru di Med...
BPBD Pematangsiantar Imbau Warga Waspada Sebaran Asap
BPBD Pematangsiantar mengimbau warga waspada sebaran asap; BMKG deteksi sebaran dan PM2.5 di Sumut berkatego...
Rakernas V MPK di Tarutung: Transformasi Sekolah Kristen Jadi Fokus
Rakernas V MPK digelar 15–16 Okt 2026 di Sopo Partungkoan, Tarutung; 250 peserta bahas transformasi sekolah...
Pria 23 Tahun Ditemukan Tewas Gantung Diri di Siantar Martoba
Pria 23 tahun ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Siantar Martoba, diduga terkait cekcok rumah tangg...
Grebek Sarang Narkoba, Polresta Deliserdang Amankan 7 Orang
Polresta Deliserdang bersama BNNK gerebek tiga titik di Tanjung Morawa; amankan 7 orang, satu perempuan posi...
Aceh Besar Jadi Pusat Peresmian 980 SPPG untuk Perluas Layanan Gizi
Pusatkan peresmian di Aceh Besar, BGN meresmikan 980 SPPG untuk perluas layanan gizi di wilayah 3T dan daera...