Kesehatan

Menkes Dorong Vaksin mRNA Dengue Buatan Indonesia

Bagikan:
Ilustrasi vaksin mRNA untuk dengue dan kolaborasi riset

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong pengembangan vaksin mRNA untuk dengue melalui kolaborasi Universitas Indonesia dan Tsinghua. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu 8 Juli 2026. Tujuannya memperkuat kemandirian produksi vaksin nasional.

Beban dengue dan prioritas vaksin nasional

Menurut Menkes, Indonesia masih menghadapi beban penyakit menular tinggi dengan sekitar 151.000 kasus dengue per tahun. Dengue kini menempati peringkat keempat penyakit menular di Indonesia. Pemerintah memilih memprioritaskan vaksin berdasarkan angka kejadian dan kematian.

Menkes juga menegaskan bahwa beberapa vaksin untuk penyakit menular utama belum diproduksi di dalam negeri, sehingga ketergantungan pada produksi luar masih terjadi.

"Mudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Karena seperti saya sampaikan tadi, kita butuh 15 antigen, baru empat yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia," — Budi Gunadi Sadikin

Kolaborasi riset: UI-Tsinghua dan dukungan lembaga

Pengembangan vaksin mRNA dengue melibatkan kolaborasi riset antara Universitas Indonesia dan Tsinghua University. Model kerja sama ini dimulai sejak 2023 dan kini diperkuat dukungan lintas kementerian serta lembaga riset.

Pihak-pihak yang disebut berperan antara lain Kemendiktisaintek, BRIN, serta LPDP sebagai pendanaan riset. Dukungan industri juga datang dari PT Etana untuk memperkuat jalur menuju produksi.

"Saya mengapresiasi dukungan Kemdiktisaintek, BRIN, dan LPDP dalam pengembangan vaksin ini. Kolaborasi tersebut penting mempercepat riset, inovasi, hingga produksi vaksin nasional," — Budi Gunadi Sadikin

Model kerja sama dan langkah implementasi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyatakan kolaborasi riset ini dimulai dengan pelaksanaan riset nyata, bukan hanya penandatanganan nota kesepahaman. Pendanaan awal datang dari Ministry of Science and Technology Tiongkok untuk pemetaan kebutuhan dan dukungan teknis.

"Waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport," — Stella Christie

Menurut Stella, pendekatan bekerja bersama sejak awal mempercepat transisi dari riset ke produksi. Model ini juga didukung oleh keterlibatan pelaku industri untuk kesiapan manufaktur di dalam negeri.

Implikasi dan prospek

Jika berhasil, vaksin mRNA dengue buatan dalam negeri akan menambah portofolio vaksin nasional dan mengurangi ketergantungan impor. Pemerintah akan tetap memilih prioritas vaksin berdasarkan beban penyakit dan angka kematian.

Upaya ini diharapkan mempercepat kemandirian kesehatan dan memperkuat kesiapan nasional menghadapi penyakit menular.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait