Surya Paloh: Optimisme Didorong Pidato Presiden Bisa Perkuat Rupiah
Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan menguat setelah pidato Presiden Prabowo Subianto tentang KEM-PPKF 2027. Pernyataan itu disampaikan usai Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026. Surya menekankan bahwa kepercayaan publik menjadi modal penting menghadapi tekanan ekonomi saat ini.
Reaksi Surya Paloh terhadap pidato Presiden
Surya mengatakan optimisme adalah modal terakhir yang harus dijaga. Ia meminta seluruh elemen bangsa mempertahankan keyakinan terhadap arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, hal itu krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Selain optimisme apalagi yang kita punya? Itu barangkali yang perlu kita pahami. Modal kita yang terakhir adalah optimisme itu sendiri,”
Target nilai tukar dan indikator makro
Pemerintah melalui KEM-PPKF 2027 menetapkan asumsi nilai tukar dan indikator ekonomi lain sebagai acuan kebijakan. Dalam paparan di DPR, Presiden Prabowo mematok rentang asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
- Asumsi nilai tukar: Rp16.800–Rp17.500 per USD
- Target inflasi: 1,5–3,5%
- Proyeksi suku bunga SBN tenor 10 tahun: 6,5–7,3%
“Strategi fiskal dan moneter kita harus mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,”
Kondisi pasar dan tekanan rupiah
Pemerintah menetapkan asumsi tersebut di tengah tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Data pasar menunjukkan rupiah sempat menyentuh level Rp17.706 per dolar AS di pasar spot pada pertengahan Mei 2026. Tekanan ini menjadi latar mengapa stabilitas nilai tukar mendapat sorotan dalam KEM-PPKF.
Implikasi dan langkah ke depan
Surya percaya pidato Presiden tidak hanya menegaskan arah kebijakan ekonomi, tetapi juga membangun semangat patriotisme terkait implementasi Pasal 33 UUD 1945 dalam sistem ekonomi nasional. Dengan asumsi makro yang ditetapkan, pemerintah diharapkan menerapkan kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Ke depan, penguatan rupiah bergantung pada efektivitas kebijakan dan sentimen pasar. Konsistensi pelaksanaan asumsi makro menjadi kunci untuk meredam tekanan dan memulihkan kepercayaan pelaku ekonomi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wapres Tinjau SD Inpres 76 Wairklau Pastikan Pendidikan Pascabencana
Wapres Gibran meninjau SD Inpres 76 Wairklau pada 20 Agustus 2026 untuk memastikan pendidikan anak tetap jad...
Kemenhub Galang Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Distribusi via KM Tidar
Kemenhub menggalang bantuan ASN untuk korban gempa NTT (15-22 Agustus 2026) dan kirim lewat KM Tidar ke Flor...
Polri Raih Rekor MURI lewat Penanaman Bawang Putih Serentak
Polri raih rekor MURI lewat penanaman bawang putih serentak di 279,53 ha, melibatkan 59 Polres di 14 Polda,...
GMF Rampungkan Modernisasi Hercules C-130H A-1319
GMF menyelesaikan modernisasi Hercules C-130H A-1319, memperpanjang masa operasional hingga 20 tahun dan men...
Wapres Gibran Tinjau Gempa NTT, Libatkan Mahasiswa untuk Trauma Healing
Wapres Gibran bertolak ke NTT 20 Agustus 2026 untuk memantau penanganan gempa; mahasiswa dilibatkan dalam tr...
KAI Commuter Imbau Antisipasi Gangguan KRL Pasca Dua Insiden
KAI Commuter minta penumpang antisipasi gangguan KRL usai dua insiden yang menyebabkan keterlambatan pada 20...