Kemendikdasmen Siapkan Strategi Penuntasan Anak Putus Sekolah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan strategi nasional untuk merangkul kembali 2,9 juta anak yang putus sekolah. Rencana ini diumumkan pada Kamis, 9 Juli 2026, dan bertujuan memastikan pelaksanaan wajib belajar 12 tahun merata di seluruh provinsi melalui pendekatan jemput bola dan integrasi data digital.
Garis besar strategi nasional
Strategi yang disusun adalah paket kebijakan taktis berskala nasional. Fokusnya pada penguatan akses dan pemerataan kualitas pendidikan menengah. Upaya ini dirancang untuk mengidentifikasi, menjangkau, dan mengembalikan anak-anak yang kehilangan hak belajarnya ke ekosistem pendidikan.
Data tunggal berbasis digital untuk pelacakan
Salah satu pilar utama adalah penerapan single data berbasis digital. Sistem ini akan memetakan keberadaan anak-anak yang putus sekolah di seluruh provinsi. Dengan data terpadu, intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi antarinstansi.
Pendekatan jemput bola dan pembelajaran adaptif
Menurut Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, pendekatan yang bersifat persuasif dan personal dinilai lebih efektif. Tim khusus akan secara aktif mengajak anak kembali ke lingkungan belajar, bukan hanya menunggu pendaftaran mandiri.
"Kami menginisiasi gerakan jemput bola bersama Direktorat Pendidikan Layanan Khusus untuk mengajak anak-anak kembali ke ekosistem belajar. Pendekatan persuasif secara personal dinilai lebih efektif dibandingkan hanya menunggu mereka mendaftar kembali secara mandiri," kata Saryadi, Kamis, 9 Juli 2026.
Selain jemput bola, kementerian menyiapkan modul pembelajaran yang lebih adaptif. Modul ini dirancang agar tidak membebani siswa yang sempat bekerja. Fleksibilitas jam belajar menjadi daya tarik utama agar mereka terdorong menuntaskan pendidikan menengahnya.
Komponen program
- Integrasi data tunggal untuk identifikasi dan pelacakan
- Gerakan jemput bola tingkat daerah dan nasional
- Modul pembelajaran adaptif untuk pelajar pekerja
- Fleksibilitas waktu dan metode pembelajaran
Dampak dan langkah ke depan
Program ini menargetkan penurunan signifikan jumlah anak tidak sekolah dengan prioritas provinsi yang memiliki angka putus sekolah tinggi. Keberhasilan akan bergantung pada koordinasi lintas sektor dan kesiapan sistem data digital di daerah.
Untuk melihat penjelasan lengkap dan perincian program, masyarakat dapat mengakses tautan video resmi yang memaparkan rencana ini.
Langkah implementasi berikutnya adalah penyempurnaan perangkat data dan pelatihan tim jemput bola di tingkat kabupaten/kota guna memastikan anak-anak yang selama ini kehilangan akses pendidikan dapat kembali menempuh pendidikan formal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bantuan Hidup KIP Kuliah 2026 Capai Rp1,4 Juta per Bulan
Pemerintah atur bantuan hidup KIP Kuliah 2026 dalam lima kluster, mulai Rp800.000 hingga Rp1,4 juta per bula...
Komisi X: Sistem Pendidikan Harus Adaptif Hadapi Bencana
Komisi X mendesak pemerintah membangun sistem pendidikan adaptif agar pembelajaran tetap berjalan dan hak an...
KIP Kuliah Luluskan 610 Ribu Mahasiswa sejak 2020
KIP Kuliah telah meluluskan lebih dari 610 ribu mahasiswa sejak 2020; 840.792 penerima masih aktif per Agust...
DPR Prioritaskan Pemenuhan Kebutuhan Korban Gempa NTT
Ansory Siregar minta BNPB laporkan kebutuhan lapangan; DPR akan perjuangkan pendanaan untuk korban gempa NTT...
Ombudsman Mulai Ukur Kerugian Publik yang Diselamatkan
Ombudsman RI mulai mengukur nilai kerugian publik yang berhasil diselamatkan lewat penanganan laporan masyar...
Komisi II Minta Ombudsman Cek Kepala Daerah dalam Pelaksanaan MBG
Komisi II minta Ombudsman periksa keterlibatan kepala daerah dalam pelaksanaan MBG dan dorong penutupan SPPG...