Konflik AS-Iran Picu Risiko Kenaikan Harga Minyak dan Tekan Investasi
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama melalui gangguan pasokan energi dan arus investasi. Pernyataan ini disampaikan Ridlwan Habib, Direktur Eksekutif The Indonesia Intelligence Institute, saat berbicara di PRO3 RRI, Kamis, 9 Juli 2026.
Dampak langsung pada energi dan harga
Ridlwan menilai gangguan militer berpeluang menekan ketersediaan energi dunia. Mekanisme pasar akan merespons dengan kenaikan harga minyak jika pasokan terganggu.
"Tetapi kalau mereka diserang, tentu saja mereka akan melakukan balasan menyerang. Kepada ekonomi dunia pasti akan sangat-sangat berdampak terutama dari sisi energi, pasokan energi."
Menurutnya, efek pada sektor energi merupakan saluran paling cepat yang dirasakan seluruh negara. Kenaikan harga minyak memengaruhi biaya produksi, transportasi, dan inflasi secara luas.
Peluang geopolitik bagi negara lain
Selain dampak negatif, Ridlwan menilai ada aktor yang bisa mengambil keuntungan dari dinamika ini. Ia menyebut Tiongkok berpeluang memperluas jaringan perdagangan dan kerja sama kawasan.
"Kalau negara besar misalnya seperti Tiongkok itu, justru malah diuntungkan dalam situasi ini. Mereka bisa membangun poros baru perdagangan."
Perubahan poros perdagangan dapat menggeser aliran barang dan investasi regional, meski hal ini tergantung pada durasi dan intensitas ketegangan.
Ancaman terhadap investasi dan hubungan Teluk
Ridlwan juga mengingatkan konsekuensi langsung bagi Indonesia. Ketegangan yang berkepanjangan berisiko menunda atau mengurangi investasi dari negara-negara Teluk.
"Dari sisi geopolitik mungkin akan terdampak kalau ketegangan tidak selesai-selesai, maka hubungan kita dengan negara teluk bisa tertunda. Bagi Indonesia dampak realnya, yang paling jelas itu pada ekonomi dan investasi yang masuk ke Indonesia."
Penurunan investasi berpotensi memperlambat proyek infrastruktur dan pengembangan energi domestik, sehingga berdampak pada lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Rekomendasi kebijakan
Untuk merespons potensi gangguan ini, Ridlwan mendorong pemerintah menjaga komunikasi dan memperkuat diplomasi dengan semua pihak. Sikap netral dan aktif dalam dialog dinilai penting untuk mempertahankan posisi Indonesia di tengah ketegangan.
Jangka menengah, pembuat kebijakan disarankan memonitor pasokan energi, menyiapkan langkah mitigasi risiko investasi, dan memperkuat kerja sama ekonomi dengan berbagai mitra untuk meredam dampak eksternal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KIP Kuliah Luluskan 610 Ribu Mahasiswa sejak 2020
KIP Kuliah telah meluluskan lebih dari 610 ribu mahasiswa sejak 2020; 840.792 penerima masih aktif per Agust...
DPR Prioritaskan Pemenuhan Kebutuhan Korban Gempa NTT
Ansory Siregar minta BNPB laporkan kebutuhan lapangan; DPR akan perjuangkan pendanaan untuk korban gempa NTT...
Ombudsman Mulai Ukur Kerugian Publik yang Diselamatkan
Ombudsman RI mulai mengukur nilai kerugian publik yang berhasil diselamatkan lewat penanganan laporan masyar...
Komisi II Minta Ombudsman Cek Kepala Daerah dalam Pelaksanaan MBG
Komisi II minta Ombudsman periksa keterlibatan kepala daerah dalam pelaksanaan MBG dan dorong penutupan SPPG...
Habibur Rochman Bantah Terlibat Pemblokiran Rekening Pati
Habibur Rochman membantah namanya dicatut dalam kasus pemblokiran rekening donasi warga Pati dan minta masya...
BPOM Terbitkan Peraturan Baru untuk Keamanan Kemasan Pangan
BPOM terbitkan Peraturan Nomor 11/2026 untuk memperketat keamanan kemasan pangan dan mengatur zat kontak pan...