Nasional

Sejarah Perang Banjar: Penyebab, Kronologi, dan Akhir

Bagikan:
Ilustrasi pertempuran dan peta Perang Banjar di Kalimantan Selatan

Perang Banjar adalah konflik besar rakyat Banjar melawan pemerintah kolonial Belanda yang pecah sejak 1859 di wilayah Kalimantan Selatan. Perang dipicu intervensi Belanda dalam urusan istana, beban pajak, dan kerja paksa yang memperparah kondisi rakyat. Perlawanan dipimpin Pangeran Antasari dengan serangkaian serangan terhadap pos dan benteng Belanda hingga tokoh-tokoh utama tertangkap atau gugur.

Latar belakang: kekayaan dan intervensi kolonial

Kerajaan Banjar menguasai wilayah kaya sumber daya, termasuk emas, intan, lada, rotan, dan damar. Kekayaan tersebut menarik minat pemerintah kolonial Belanda untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi.

Pendekatan Belanda dimulai lewat perjanjian dengan Sultan Sulaiman pada 1817. Kesepakatan itu membuka jalan bagi pengambilalihan wilayah dan penyerahan sebagian daerah kerajaan kepada Belanda.

Pemicu konflik: pengurangan wilayah dan krisis politik

Akibat perjanjian dan tekanan Belanda, wilayah Kerajaan Banjar menyusut drastis. Setelah perjanjian 1826, kekuasaan praktis kerajaan hanya tersisa di Hulu Sungai, Martapura, dan Banjarmasin.

Pemberlakuan pajak tinggi dan kerja paksa menambah beban rakyat. Intervensi Belanda juga masuk ke ranah suksesi, terutama setelah wafatnya Putra Mahkota Abdurrahman pada 1852.

Ketegangan memuncak ketika Sultan Adam mengajukan tiga calon pewaris, namun Belanda mendukung Pangeran Tamjidillah. Dukungan kolonial itu memicu penolakan luas dan menjadi pemicu langsung meletusnya perang pada 1859.

Kronologi pertempuran dan kepemimpinan Pangeran Antasari

Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin perlawanan. Serangan awal dilancarkan pada 28 April 1859, dengan sasaran pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron.

Dalam beberapa bulan, pasukan Antasari bersama tokoh seperti Haji Buyasin, Kiai Lang Lang, dan Demang Leman berhasil merebut Benteng Tabanio. Kemenangan itu mengobarkan semangat rakyat dan meluaskan pertempuran ke Banua Lima, Martapura, dan Tanah Laut.

Pada September 1859, tokoh-tokoh Banjar menolak perundingan dengan Belanda. Tawaran penyerahan diri yang dikirim Belanda pada Maret 1860 ke Pangeran Hidayatullah pun ditolak, sehingga pertempuran terus berlangsung.

Penangkapan, pengasingan, dan akhir perjuangan

Kekurangan persenjataan menempatkan pasukan Banjar pada posisi sulit. Pangeran Hidayatullah ditangkap Belanda pada Februari 1862 dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat.

Penangkapan itu memicu serangan balasan oleh Pangeran Antasari, yang kemudian dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Namun Antasari wafat pada 11 Oktober 1862.

Setelah kematian dan penangkapan para pemimpin, Belanda menjalankan operasi penumpasan yang akhirnya meredam perlawanan. Meskipun demikian, semangat perjuangan rakyat Banjar tetap dikenang dalam sejarah nasional.

Sumber

  • Abdurakhman, Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI (2017)
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
  • Arsip sejarah Perang Banjar
Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait