Lokal

Sedekah Sampah: Siswa Kuala Tanjung Kumpulkan Dana untuk 12 Anak Yatim

Bagikan:
Siswa MIS Al Mukhlisin mengumpulkan botol plastik dan kardus untuk program Sedekah Sampah

KUALA TANJUNG — Melalui program Sedekah Sampah, 248 siswa MIS Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung mengumpulkan botol plastik, kaleng, dan kardus bekas sejak awal program untuk dijual dan digunakan membantu kebutuhan pendidikan 12 anak yatim dari keluarga kurang mampu.

Program dan pelaksanaan

Inisiatif bernama Sedekah Sampah ini digagas Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), bekerja sama dengan MIS Al Mukhlisin, Kecamatan Seisuka, Kabupaten Batubara. Kegiatan melibatkan siswa dari sembilan kelas tingkat 3 hingga 6.

Setiap kelas menyediakan tempat penampungan sampah anorganik. Petugas Bank Sampah Berseri menimbang sampah setiap Rabu dan Sabtu sebelum membawa ke bank sampah untuk dijual. Target pengumpulan ditetapkan mencapai 35 kilogram per bulan.

Kutipan dari pengelola dan sekolah

Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat Inalum, Ali Hasian, menyatakan dukungan atas inisiatif tersebut. Menurut Ali, program ini memperlihatkan hubungan langsung antara pengelolaan lingkungan dan manfaat sosial, khususnya pada pendidikan anak.

"Kami mengapresiasi inisiatif Sedekah Sampah yang dikembangkan Bank Sampah Berseri. Program ini merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak positif karena mengajarkan anak-anak bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim dan kurang mampu. Kami berharap inisiatif ini terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus berbagi kepada sesama,"

Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menjelaskan tujuan program adalah membangun kesadaran lingkungan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi sejak dini.

"Sedekah sampah ini harapannya untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa sedekah itu tidak harus uang. Mereka bisa membantu sesama kawannya dan bertanggung jawab dengan sampahnya,"

Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menambahkan bahwa hasil penjualan sampah akan dipakai untuk membeli kebutuhan sekolah seperti tas dan sepatu bagi anak-anak yatim.

"Berapapun yang kami dapat dari bank sampah, nanti juga kami belikan tas sekolah atau sepatu, yang bermanfaat untuk anak-anak itu,"

Ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat

Bank Sampah Berseri bukan hanya mengelola pengumpulan dan penjualan sampah anorganik. Kelompok binaan Inalum ini juga mengintegrasikan kegiatan produktif untuk mendukung ekonomi sirkular di tingkat komunitas.

  • Budidaya tanaman hidroponik
  • Peternakan ayam petelur
  • Budidaya maggot
  • Perikanan skala komunitas

Bupati Batubara memberi apresiasi atas pendekatan yang menghubungkan berbagai aktivitas produktif dalam satu sistem. Bagi Inalum, pengembangan bank sampah seperti ini menjadi bagian dari dukungan terhadap kemandirian ekonomi, kepedulian lingkungan, dan manfaat sosial berkelanjutan.

Program Sedekah Sampah diharapkan menjadi contoh praktik baik bagi sekolah dan komunitas lain dalam memanfaatkan sampah sebagai sumber daya bernilai sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong di masyarakat.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait