Lokal

Mburo Ate Tedeh di Medan: Penabalan Merga untuk Wali Kota Rico Waas

Bagikan:
Prosesi adat Mburo Ate Tedeh dan penabalan merga di Medan

Medan — Persiapan pelaksanaan Mburo Ate Tedeh telah rampung dan akan digelar pada Sabtu, 7 November, mulai pukul 15.00 WIB di Gedung TP PKK Kota Medan. Kegiatan ini menjadi ajang temu kangen masyarakat Karo sekaligus prosesi adat penabalan merga untuk Wali Kota Medan, Rico Waas, dan istrinya, Airin Rico Waas.

Pelaksanaan dan kehadiran

Ketua panitia Muhammad Edison Ginting, didampingi Sekretaris Harry Indrawan Tarigan, menyatakan seluruh persiapan telah selesai. Selain warga Karo, acara direncanakan dihadiri kepala daerah dari kalangan masyarakat Karo, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Sumatera Utara, DPRD Kota Medan, tokoh adat, serta cendekiawan Karo.

Penabalan merga dan makna sejarah

Dalam prosesi adat, Wali Kota Rico Waas akan ditabalkan sebagai merga Ginting Suka dengan status bebere Tarigan. Sementara itu, Airin Rico Waas akan ditabalkan sebagai beru Sembiring Pelawi bebere Karo Sekali Suka Piring.

Ginting menjelaskan bahwa penabalan merga ini berkaitan erat dengan sejarah keluarga Wali Kota. Kakek Rico, Letnan Jacob Waas, dikenal sebagai teman seperjuangan dan ajudan Pahlawan Nasional Letjen Jamin Gintings saat melawan Belanda di Tanah Karo dan Sumatera Utara pada masa revolusi sekitar 1947. Penabalan dimaksudkan sebagai penghormatan atas ikatan itu.

Rangkaian budaya

Acara Mburo Ate Tedeh akan menampilkan beragam unsur budaya Karo. Panitia menyiapkan pertunjukan alat musik tradisional dan prosesi adat yang khas. Selain itu, terdapat tradisi adu pengantin yang melibatkan tarian dan nyanyian, serta manuk sangkep atau makan nasi bersama.

  • Pertunjukan alat musik tradisional Karo
  • Prosesi adat penabalan merga
  • Tradisi adu pengantin: tarian dan nyanyian
  • Manuk sangkep: tradisi makan bersama

Harapan panitia

"Mburo Ate Tedeh bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Karo. Kami ingin melalui kegiatan ini, ikatan kekeluargaan dan kecintaan terhadap adat serta budaya Karo semakin kuat,"

Ginting menambahkan panitia berharap acara ini menjadi ruang kebersamaan sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Karo kepada masyarakat luas, terutama generasi muda. Panitia mengajak semua masyarakat Karo se-Kota Medan untuk hadir dan meningkatkan tali silaturahmi.

Dengan latar sejarah dan rangkaian budaya yang lengkap, Mburo Ate Tedeh diharapkan tidak hanya menguatkan hubungan antarwarga Karo, tetapi juga menjadi wahana pelestarian tradisi bagi generasi berikutnya.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait