Petani Bojonegoro Gelar Sedekah Bumi dan Perkuat Gotong Royong
Bojonegoro — Ratusan petani Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jati Makmur dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Pertapan Marianto baru-baru ini menggelar Sedekah Bumi di Kawasan Hutan Jono Puro, Desa Jono, Kecamatan Temayang, sebagai langkah kolektif menghadapi pelemahan ekonomi dan turunnya daya beli. Kegiatan tersebut menjadi arena konsolidasi sosial dan praktik kerja komunal untuk menekan biaya produksi pertanian.
Ritual adat sebagai ruang solidaritas
Acara Sedekah Bumi berlangsung khidmat dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bojonegoro, Amin Thohari. Ritual ini bukan sekadar seremonial; warga memaknai ritual sebagai sarana memperkuat modal sosial dan merawat tradisi bersama.
"Dari kebersamaan, dari kerja kolektif, dan dari saling bantu, lahir ketahanan ekonomi rakyat kecil. Ini adalah esensi kekuatan Marhaen yang sebenarnya,"
Dalam sambutannya Amin menekankan pentingnya ekonomi kolektif agar petani tidak berjuang sendirian. Ia juga menyebut tradisi setempat sebagai pengejawantahan nilai persatuan dan musyawarah dalam pengelolaan lahan hutan.
Kerja bergilir memotong biaya produksi
Di Desa Jono, praktik gentian atau kerja bergilir berjalan sejak pengolahan lahan hingga panen. Petani mengerjakan lahan bersama secara bergantian sehingga penggunaan alat dan pembelian benih dapat dilakukan secara kolektif.
- Pengolahan tanah secara komunal
- Penanaman benih bersama
- Perawatan bergilir hingga masa panen
- Pembagian tenaga kerja sukarela untuk memotong biaya upah panen
Sistem ini menekan biaya operasional secara signifikan. Menurut warga, pengadaan alat dan tenaga kerja yang dilakukan bersama membuat beban yang biasanya besar menjadi lebih ringan.
"Beban berat menjadi ringan jika dijalankan bersama. Ini bukti nyata bagaimana cara bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit,"
Menjaga iklim sosial dan produktivitas
Tokoh petani lokal menyatakan bahwa doa bersama yang dipimpin kyai setempat memperkuat rasa kebersamaan, rukun, dan toleransi antarwarga. Suasana kondusif itu dinilai krusial agar petani bisa fokus mengelola kawasan hutan tanpa gangguan sosial.
"Dengan doa bersama ini, kami berharap masyarakat petani hutan Desa Jono mampu menjaga rasa kebersamaan, guyub, rukun, dan toleransi. Jika suasana kondusif, kita bisa fokus bekerja mengelola hutan dengan tenang,"
Dampak dan prospek
Sedekah Bumi di Temayang tahun ini menegaskan bahwa ketika pasar dan kebijakan makro melemah, komunitas lokal mengandalkan praktik tradisional dan gotong royong untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Metode kerja komunal seperti yang diterapkan di Desa Jono berpotensi dijadikan model adaptasi bagi komunitas petani hutan lain di wilayah rawan tekanan ekonomi.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Blitar Bidik Juara Piala Presiden Jatim untuk Dua Tim U-12/U-10
Yudi Meira melepas Bima Putra U-12 dan Putra Batara U-10, menargetkan kedua tim juara Festival Piala Preside...
Kualitas Jadi Kunci Perempuan Berdaya di Politik
Sri Untari menegaskan kualitas dan kompetensi sebagai syarat agar perempuan di parlemen mampu menghasilkan k...
Peringatan Bulan Bung Karno di Lumajang: Doa dan Dialog
Doa bersama dan dialog Peringatan Bulan Bung Karno digelar di Lumajang pada 30 Juni 2026 untuk mengenang Soe...
Banyuwangi Studi Banding ke Bojonegoro untuk Raperda Dana Abadi
Bapemperda DPRD Banyuwangi melakukan studi banding ke BPKAD Bojonegoro pada 26 Juni 2026 untuk mematangkan r...
DPRD Surabaya Awasi Renovasi RTLH di Tambak Asri
Tri Didik Adiono meninjau renovasi RTLH di Tambak Asri, memastikan bantuan tepat sasaran dan meningkatkan ku...
Tri Didik Tinjau RTLH di Tambak Asri, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Tri Didik Adiono meninjau RTLH di Tambak Asri (30/6/2026) untuk memastikan renovasi rumah tepat sasaran dan...