DPRD Jember Minta Pangkas Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Stiker Bantuan
JEMBER — Dua anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho dan Indi Naidha, meminta Pemerintah Kabupaten Jember memangkas anggaran pencetakan stiker penerima bantuan sosial senilai Rp2,8 miliar. Permintaan disampaikan saat rapat pembahasan KUPA-PPAS pada Selasa (18/8/2026). Mereka menilai besaran anggaran tidak sebanding untuk sekadar mencetak stiker dan mengusulkan alternatif berbasis teknologi.
Usulan penyederhanaan stiker dan pemanfaatan barcode
Wahyu, yang akrab disapa Nuki, mengusulkan agar Pemkab menggunakan satu jenis stiker saja dengan barcode untuk menandai penerima bantuan. Menurutnya, penyatuan jenis stiker cukup untuk identifikasi sekaligus menghemat biaya pencetakan.
“Jadi satu bisa. Yang urgensi ini sebenarnya barcode-nya,”
Indi Naidha mendukung gagasan itu dan mempertanyakan perhitungan jumlah stiker. Ia mengingatkan bahwa tidak semua penduduk Jember berhak menerima bantuan sosial.
“Penduduk Jember 2,6 juta, kan tidak semua miskin. Tidak mungkin dikasih stiker semua,”
Rincian anggaran stiker dalam Perubahan APBD 2026
Pemkab Jember mengalokasikan total Rp2,8 miliar untuk mencetak 703 ribu stiker penerima bantuan sosial dalam Perubahan APBD 2026. Rincian alokasi disebut sebagai berikut.
| Program | Jumlah Stiker | Alokasi Anggaran |
|---|---|---|
| Bantuan Pangan Non Tunai | 398.000 | Rp1,592 miliar |
| Universal Health Coverage | 210.000 | Rp840 juta |
| Program Keluarga Harapan | 95.000 | Rp380 juta |
| Total | 703.000 | Rp2,8 miliar |
Alasan Pemkab dan keberatan DPRD
Kepala Dinas Sosial Jember, Akhmad Helmi Luqman, mengatakan stiker diperlukan agar petugas dan warga mudah mengenali rumah penerima bantuan. Usulan ini muncul setelah petugas Badan Pusat Statistik menemukan sejumlah warga yang mengaku tidak pernah menerima bantuan atau lupa pernah menerimanya.
“Jadi, nantinya kita tempeli rumah-rumah penerima bantuan,”
Meski demikian, anggota DPRD menilai rencana itu masih bisa diefisienkan. Mereka mendorong penyederhanaan jenis stiker dan pemanfaatan teknologi seperti barcode untuk menekan biaya tanpa mengorbankan fungsi verifikasi.
Implikasi dan langkah berikutnya
Pembahasan anggaran ini berlanjut dalam proses KUPA-PPAS. Jika DPRD berhasil meyakinkan eksekutif, Pemkab dapat meninjau kembali desain dan volume pencetakan stiker, atau mengganti sebagian anggaran untuk solusi digital. Keputusan akhir akan menentukan apakah anggaran dicadangkan tetap pada angka semula atau direvisi demi efisiensi anggaran.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Ahok Minta Kader PDIP Madiun Turun dan Dengarkan Rakyat
Ahok mengingatkan kader PDIP Kota Madiun agar turun ke masyarakat, dengarkan keluhan, dan cari solusi nyata,...
PDI Perjuangan Malang Sisipkan Doa dan Galang Bantuan untuk Korban NTT
PDI Perjuangan Kota Malang menyisipkan doa dan galang bantuan untuk korban gempa NTT saat upacara HUT RI ke-...
Said Abdullah: Pengajuan Destry-Aida Pilihan Teknokrasi untuk BI
Said Abdullah menilai pengajuan Destry dan Aida sebagai pilihan teknokrasi; BI perlu segera merumuskan core...
Marhaenisme: Relevansi Pemikiran Bung Karno di Era Digital
Presiden Prabowo menyebut Marhaenisme pada 14 Agustus 2026; gagasan Bung Karno diuji relevansinya untuk meni...
17 Rumah Diserahkan di Trenggalek: Makna Kemerdekaan Lewat Bedah Rumah
Bupati Trenggalek menyerahkan 17 rumah hasil program bedah rumah pada 17 Agustus 2026; sinergi Pemkab, Bazna...
Bambang Sutriyono Gelar Doa HUT ke-81 dan Bagikan Pupuk Organik Gratis
Bambang Sutriyono memimpin doa HUT ke-81 di Desa Pancur, Temayang, sekaligus membagikan pupuk organik gratis...