Politik

OJK Apresiasi Sangu Sampah Trenggalek, Edukasi Lingkungan dan Tabungan

Bagikan:
Program Sangu Sampah Trenggalek: edukasi lingkungan dan literasi keuangan pelajar

TRENGGALEK – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan apresiasi pada program Sangu Sampah yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Trenggalek pada Kamis (20/8/2026). Program ini menggabungkan edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, dan literasi menabung bagi pelajar mulai SD hingga perguruan tinggi. OJK menilai inisiatif itu unik karena mengajarkan nilai ekonomi barang bekas sekaligus kebiasaan menabung sejak dini.

Inti program dan mekanisme pengelolaan

Program Sangu Sampah telah berjalan sekitar dua tahun di sekolah-sekolah Trenggalek. Siswa diminta memilah sampah yang masih bernilai ekonomi dan mengumpulkannya di sekolah. Sampah lalu disalurkan melalui TPS 3R, bank sampah, dan offtaker menuju fasilitas pengolahan atau daur ulang.

Jenis sampah yang dikumpulkan meliputi:

  • Botol plastik bekas minuman
  • Kemasan plastik dan kaca
  • Kain dan logam
  • Minyak jelantah

Setelah dikumpulkan, sampah tersebut dikonversi menjadi nilai uang. Hasilnya dapat digunakan sebagai uang saku atau ditabung oleh siswa.

Uraian manfaat pendidikan dan lingkungan

Menurut Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, inovasi ini patut diberi pengakuan karena menggabungkan dua aspek penting: lingkungan dan keuangan. Ia menyampaikan apresiasinya saat memberikan edukasi menabung dalam peringatan Hari Indonesia Menabung di GOR Gajah Putih Trenggalek.

"Ini satu-satunya dan hanya ada di Trenggalek. Inovasi ini layak mendapat apresiasi,"

Pelaksana program, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau Mas Ipin, menegaskan tujuan ganda program: menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan membentuk kebiasaan menabung siswa. Ia menyatakan program sudah berjalan di seluruh sekolah selama dua tahun.

"Kami juga mengajarkan siswa untuk menabung dari program Sangu Sampah ini. Dan hasilnya sudah mulai terasa,"

Akun, rekening, dan inklusi keuangan

Pelaksanaan program menyesuaikan kemampuan siswa. Untuk pelajar SD dan santri yang belum memiliki gawai, akun dapat dikelola oleh wali murid, guru, atau pengurus sekolah. Sedangkan untuk pelajar SMA hingga mahasiswa, diberlakukan sistem satu orang satu akun dengan satu rekening.

Nilai uang hasil penjualan sampah dihitung secara berkala dengan memperhitungkan biaya operasional pengelolaan. Siswa menerima hasil sesuai jumlah sampah yang dikumpulkan. Pemerintah kabupaten bersama OJK terus mendorong budaya menabung agar kebiasaan ini terbentuk sejak dini.

Dukungan dan target ke depan

Pemkab Trenggalek menargetkan setiap pelajar memiliki rekening sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi dan inklusi keuangan. Selain mengurangi sampah dan melindungi lingkungan, program ini membuka ruang pembelajaran nilai ekonomi barang bekas dan pengelolaan keuangan sederhana.

Apresiasi OJK memperkuat posisi Sangu Sampah sebagai inovasi daerah yang menghubungkan pendidikan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan literasi keuangan dalam satu program. Program ini diproyeksikan terus dikembangkan untuk menjangkau lebih banyak pelajar dan memperkuat jaringan pengolahan sampah di daerah.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait