Rupiah Tutup Pekan di Rp17.880, Melemah 0,20% terhadap Dolar
Rupiah ditutup melemah 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.880 per dolar AS pada Jumat, 29 Mei 2026. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen global — termasuk perkembangan gencatan senjata AS-Iran dan data ekonomi AS — serta aliran keluar modal dari negara berkembang.
Pergerakan pasar dan sentimen geopolitik
Sentimen pasar sedikit membaik setelah muncul rencana perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, skema itu masih membutuhkan persetujuan lanjutan dari pihak terkait sehingga menimbulkan ketidakpastian.
“Diantaranya soal program nuklir dan isu-isu keamanan regional,” kata Ibrahim, Jumat, 29 Mei 2026.
Ketidakpastian tersebut membuat harga minyak tetap berfluktuasi, yang pada gilirannya membebani pasar mata uang emerging.
Data AS yang menekan rupiah
Pelaku pasar juga mengamati data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini mendorong ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
“Inflasinya lebih tinggi dari perkiraan, sehingga the Fed kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga tinggi,” ucap Ibrahim.
Selain itu, indikator lainnya menunjukkan perlambatan ekonomi AS pada kuartal I 2026. PDB direvisi turun menjadi 1,69 persen dari perkiraan 2 persen. Klaim pengangguran awal juga meningkat menjadi 215 ribu, di atas perkiraan 211 ribu.
Aliran modal dan tekanan domestik
Di pasar domestik, tekanan datang dari arus keluar modal asing yang masih tinggi. Investor global cenderung memindahkan aset ke instrumen berisiko rendah di AS, seperti obligasi, karena imbal hasil yang menarik.
“Para investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS, misalnya ke obligasi karena imbal hasilnya menarik,” ujarnya.
Selain itu, pelaku pasar mengawasi penilaian lembaga pemeringkat global dan hasil evaluasi indeks saham, yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
- S&P Global
- Moody's
- Fitch Ratings
- MSCI (penilaian indeks saham)
Prospek ke depan
Dengan sentimen eksternal yang masih dominan, rupiah kemungkinan akan tetap rentan terhadap fluktuasi data AS dan perkembangan geopolitik. Di dalam negeri, respons investor terhadap penilaian lembaga global dan hasil evaluasi indeks akan menjadi faktor penentu arah pasar pada pekan depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...