IHSG Dibuka Melemah 1,26% ke 6.266,97 Jelang Akhir Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Jumat, 24 Juli, turun 79,50 poin atau 1,26 persen ke level 6.266,97 pada pembukaan perdagangan. Pelemahan terjadi menjelang akhir pekan dan terjadi di tengah dominasi saham merah di bursa.
Pembukaan pasar dan kondisi saham
Pada sesi pembukaan, sekitar 500 saham tercatat turun, sementara 75 saham menguat dan 97 saham stagnan. Kondisi ini memperkuat sentimen korektif setelah penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang tercatat turun tipis 19,16 persen ke level 6.315.
Sentimen eksternal membebani
Pelaku pasar masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Perhatian tertuju pada kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat terhadap mitra dagang yang dinilai dapat menambah ketidakpastian pasar global.
Selain itu, kenaikan ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD 100 per barel. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran kenaikan inflasi dan potensi pengaruhnya terhadap sikap The Fed.
"Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi berpotensi kembali mengalami kenaikan dan berpengaruh terhadap keputusan The Fed berikutnya," - Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas
Dampak kebijakan domestik
Dari sisi domestik, implementasi program mandatori biodiesel B50 dinilai sebagai sentimen positif untuk emiten perkebunan sawit. Program ini berpotensi menjaga permintaan dan menopang harga minyak sawit mentah (CPO).
Namun, pasar juga mencermati kemungkinan kebutuhan insentif tambahan dari pemerintah untuk menopang program tersebut. Pilarmas Investindo memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan kisaran support 6.110 hingga resistance 6.380.
Pemeringkatan korporasi dan risiko mata uang
Lembaga pemeringkat global S&P baru-baru ini memberi peringkat terhadap 69 emiten korporasi dan infrastruktur yang dipublikasikan. Pemeringkatan dibagi dalam empat kategori berdasarkan eksposur terhadap ketidaksesuaian mata uang, operasional, dan neraca.
"Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan. Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif, untuk membayar kewajiban keuangan," - Tim Analis Phintraco
Indikator teknikal dan prospek jangka pendek
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG menunjukkan death cross di area overbought. Sementara itu, histogram MACD masih berada di area positif meskipun mengalami penyempitan, menandakan momentum mengerucut.
"Diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6.280, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200–6.250," - Tim Analis Phintraco Sekuritas
Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor negatif utama. Investor disarankan memantau perkembangan geopolitik, kebijakan impor AS, dan data teknikal untuk menentukan posisi perdagangan pada sesi berikutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Airlangga Yakinkan Pengusaha Tiongkok Investasi di Indonesia Menguntungkan
Airlangga ajak 30 pelaku usaha Tiongkok berinvestasi di sektor bernilai tambah, dengan insentif fiskal seper...
Kendal Dampingi UMKM Percepat Sertifikat Halal
Pemkab Kendal mempercepat pendampingan UMKM untuk memperoleh sertifikat halal lewat pembentukan Ekosistem Ha...
Pensiunan Jual Kopi dari Kebun Kulon Progo di Belakang Pasar Ngasem
Pensiunan L. Ernawan jalankan kedai kopi "Belum Ada Nama" di belakang Pasar Ngasem, sumber biji dari kebun K...
Satu Dekade Produksi Arang di Moyudan, Joko Andalkan Kualitas
Produsen arang di Moyudan sejak 2015, Joko Mulyanto andalkan kayu keras dan teknik pendinginan abu untuk men...
MotoGP 2026 Jadi Etalase Produk UMKM Mataram
Pemerintah Kota Mataram mempersiapkan UMKM tampil di MotoGP Mandalika 2026 lewat kurasi, pembinaan, dan peni...
Tips Memilih Benang dan Hakpen untuk Pemula Merajut
Putri Hidayah membagikan tips memilih benang dan hakpen untuk pemula agar menghasilkan rajutan rapi dan taha...