Rupiah Melemah ke Rp17.980, Dipicu Sentimen Risk-off
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka turun 0,25 persen atau 44 poin ke posisi Rp17.980 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen risk off dari investor akibat eskalasi geopolitik.
Pembukaan pasar dan proyeksi pelemahan
Pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah juga terkoreksi 0,11 persen ke level Rp17.936 per dolar AS. Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan tren pelemahan masih berlanjut pada hari ini.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off para investor," kata Lukman, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut Lukman, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur risiko karena ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
Sentimen geopolitik dan harga minyak
Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, yang kemudian memicu kekhawatiran pasar global. Kondisi ini membuat arus modal cenderung mencari aset safe haven, seperti dolar AS.
Perkiraan pergerakan
Lukman memproyeksikan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di antara Rp17.900 hingga Rp18.050. Ia menambahkan bahwa rupiah kembali berisiko menembus level psikologis Rp18.000 jika sentimen memburuk.
"Rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp17.900-Rp18.050," ucap Lukman.
Dampak bagi korporasi
Lembaga pemeringkat internasional S&P mencatat depresiasi mata uang sebagai fenomena berdampak ganda. Di satu sisi, eksportir dapat meraih keuntungan dari nilai tukar yang lebih lemah. Namun di sisi lain, importir menghadapi kenaikan biaya impor yang dapat menekan margin perusahaan.
Penguatan dolar AS
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,3 persen ke level 101,46, yang tercatat sebagai tertinggi dalam sebulan terakhir. Penguatan dolar turut memperbesar tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Secara keseluruhan, kombinasi eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar menjadi faktor utama pelemahan rupiah pada pembukaan 24 Juli 2026. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada dinamika konflik di Timur Tengah dan respons pasar keuangan global.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...