IHSG Berisiko Terkoreksi, Uji Level 6.200–6.250
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. IHSG ditutup turun 0,30 persen ke level 6.315 pada hari Kamis, sehingga pasar kini diperkirakan menguji support di 6.200–6.250.
Ringkasan teknikal dan sentimen
Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, posisi IHSG masih berada di area positif namun mengalami penyempitan volatilitas. Kondisi ini meningkatkan risiko sentimen negatif yang bisa mendorong koreksi lebih lanjut.
"Secara teknikal, IHSG masih di area positif meski sedikit mengalami penyempitan. Sehingga IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di 6.200-6.250," Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Faktor pemicu: minyak dan likuiditas
Salah satu risiko utama yang disebut analis adalah kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga komoditas ini biasanya menekan sentimen pasar saham domestik karena meningkatnya tekanan biaya dan risiko eksternal.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan data likuiditas. Bank Indonesia mencatat jumlah uang beredar M2 meningkat 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun pada Juni 2026. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan Mei sebesar 10,8%.
"Ini menunjukkan likuiditas di Indonesia masih meningkat, tetapi peningkatannya tidak secepat bulan sebelumnya," Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, laju pertumbuhan kredit terakselerasi menjadi 12,6% pada Juni 2026, yang menunjukkan permintaan pembiayaan tetap kuat meski likuiditas melambat.
Pemeringkatan emiten dan risiko valuta
Lembaga pemeringkat global melakukan penilaian terhadap 69 emiten korporasi dan infrastruktur yang tercatat publik. Pemeringkatan tersebut dikelompokkan berdasarkan eksposur terhadap mismatch mata uang, risiko operasional, dan struktur neraca.
"Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan. Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif, untuk membayar kewajiban keuangan," Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Outlook
Sekarang, pelaku pasar diharapkan memantau pergerakan harga minyak dan data makro domestik yang dapat mengubah sentimen dalam jangka pendek. Jika tekanan eksternal meningkat, IHSG berisiko menembus support 6.200–6.250.
Investor disarankan berhati-hati dan memperhatikan pembaruan data likuiditas serta perkembangan nilai tukar yang dapat memperburuk risiko bagi emiten dengan eksposur valuta asing.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...