Rupiah Melemah, Sektor Properti dan Industri Tempe Tertekan
Nilai rupiah yang melemah memberi tekanan nyata pada beberapa sektor ekonomi. Dua yang paling terdampak adalah sektor properti dan industri tempe-tahu. Kondisi ini mendorong perbankan memperketat pembiayaan dan menaikkan biaya produksi, sehingga memengaruhi laju pembangunan dan kelangsungan usaha kecil.
Tekanan pada sektor properti
Pengembang menyebut akses pembiayaan menjadi lebih sulit saat pelemahan rupiah. Bank kini lebih selektif menyalurkan kredit konstruksi karena ketidakpastian ekonomi dan risiko kurs.
Situasi itu berdampak langsung pada percepatan proyek perumahan. Banyak pembangunan terpaksa berjalan lebih lambat atau ditunda karena pendanaan tidak tersedia sesuai kebutuhan.
"Bank akan lebih berhati-hati menyalurkan kredit. Analisis pembiayaan menjadi semakin ketat saat ekonomi tidak pasti,"
Menurut pengamat properti Jehansyah Siregar, pergeseran strategi pembiayaan ini memaksa pengembang dan pembeli menyesuaikan rencana. Sebagai alternatif, masyarakat mulai memilih cara kepemilikan rumah bertahap.
- Pembangunan bertahap sesuai kemampuan
- Menabung untuk membeli material secara berkala
- Mencari skema pembiayaan nonbank atau kredit mikro
Jehansyah menekankan bahwa menabung material dapat menjaga daya beli dibanding menimbun uang tunai saat nilai mata uang melemah.
Dampak pada perajin tempe dan tahu
Di sektor makanan, perajin tempe dan tahu menghadapi kenaikan biaya produksi. Penyebab utama adalah lonjakan harga kedelai impor, bahan baku utama pembuatan produk kedelai.
Meski biaya meningkat, banyak perajin memilih menahan harga jual agar daya beli konsumen tidak terganggu. Langkah ini membantu menjaga kestabilan pasar domestik meski margin usaha menyempit.
"Untuk saat ini harga jual belum naik. Ukuran dan kualitas produk juga masih sama,"
Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat, Muhammad Zamaludin, berharap ada intervensi kebijakan untuk menstabilkan harga bahan baku. Tanpa dukungan, perajin kecil berisiko kehilangan kemampuan operasional jangka panjang.
Harapan dan prospek ke depan
Pelemahan rupiah memberi sinyal perlunya langkah koordinasi dari pelaku usaha dan pembuat kebijakan. Stabilitas harga bahan baku dan akses pembiayaan yang lebih fleksibel dinilai penting untuk menahan tekanan pada produksi dan konsumsi.
Ke depan, pengamat dan pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang mendukung ketersediaan bahan baku dan likuiditas perbankan. Tanpa itu, risiko penurunan aktivitas konstruksi dan kelangsungan usaha mikro tetap meningkat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DJKI Perkuat Merek Kolektif untuk Perluas Akses Pasar Regional
DJKI mendorong pemanfaatan merek kolektif lewat ASEAN-HKC untuk memperluas akses pasar regional; tercatat 87...
KPAI Minta Pengawasan Ketat untuk Program MBG 3B
KPAI mendesak pengawasan ketat pada Program MBG 3B agar makanan untuk bumil, busui, dan balita aman, bermutu...
Pemerintah Targetkan Revisi UU LLAJ Rampung 2026
Pemerintah menyerahkan 1.200 DIM RUU LLAJ ke DPR dan menargetkan revisi diselesaikan pada 2026 agar dapat di...
Kemensos Buka Kanal WhatsApp untuk Pengaduan Sekolah Rakyat
Kemensos membuka kanal WhatsApp 0887-7171-171 pada 29 Sept 2026 untuk pengaduan Sekolah Rakyat, terbuka bagi...
Indonesia Jajaki Pengalaman India untuk Bangun Infrastruktur Publik Digital
Indonesia menjajaki pengalaman India membangun infrastruktur publik digital untuk integrasi layanan, kata Wa...
Kemacetan Pelabuhan Ketapang: ODOL, Demo, dan Solusi Bersama
Kemacetan di akses Pelabuhan Ketapang disebabkan ODOL, antrean Pelindo, dan demonstrasi; solusinya butuh pen...