Rupiah Menguat Signifikan, BI: Pasar Respons Positif Kenaikan Suku Bunga
Bank Indonesia (BI)Rp17.865 per dolar AS. Penguatan ini terjadi usai kenaikan suku bunga BI Rate menjadi 5,5% dan direspons positif oleh pelaku pasar.
Pergerakan nilai tukar dan konteks
Rupiah pada akhir pekan ini menguat dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya yang berada di level Rp18.010 per dolar AS. Pergerakan itu menunjukkan apresiasi tajam dalam sepekan.
BI menilai penguatan ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kombinasi kebijakan moneter dan langkah stabilisasi nilai tukar yang ditempuh otoritas.
Respons BI dan kebijakan yang diterapkan
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kenaikan BI Rate mendapat respons positif dari investor. Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat struktur bunga SRBI dan memberikan insentif hedging swap bagi investor asing.
"Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," ujar Destry Damayanti.
BI juga membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan dan meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah serta valuta asing. Langkah-langkah itu dijalankan bersinergi dengan pemerintah.
Aliran masuk modal asing
Aliran modal asing ke instrumen domestik tercatat meningkat pada 10-11 Juni 2026. BI menyebut ada peningkatan partisipasi investor terhadap SRBI, SBN, dan penawaran obligasi internasional.
| Instrumen | Tanggal | Inflow (Rp) |
|---|---|---|
| Sekuritas Rupiah BI (SRBI) | 10-11 Juni 2026 | 15,11 triliun |
| Surat Berharga Negara (SBN) | 10-11 Juni 2026 | 3,91 triliun |
| Obligasi internasional Danantara (penjualan perdana) | 10-11 Juni 2026 | 26,9 triliun |
Data tersebut menunjukkan minat investor asing terhadap aset-aset keuangan domestik meningkat setelah kebijakan BI terbaru.
Kerja sama internasional untuk ketahanan eksternal
Untuk memperkuat ketahanan eksternal, BI memperkuat kerja sama dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Tiga kesepakatan utama disepakati antara lain:
- Sinergi untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas keuangan regional.
- Penguatan kerja sama Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).
- Perluasan komitmen penggunaan mata uang lokal melalui Local Currency Transaction (LCT).
Destry menyatakan inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Prospek dan langkah ke depan
BI menyatakan akan terus hadir di pasar dan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur. Koordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lain juga akan diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal.
Perkembangan aliran modal dan kerja sama internasional akan menjadi indikator yang dipantau untuk menilai keberlanjutan penguatan rupiah ke depan.
Berita Terkait
OJK-ILO Luncurkan Sistem ERP untuk Perluas Pembiayaan Peternak
OJK dan ILO meluncurkan sistem ERP di Malang untuk memperluas akses pembiayaan formal bagi peternak sapi per...
Pemerintah dan DPR Sepakati Kerangka Fiskal RAPBN 2027
Pemerintah dan Komisi XI DPR sepakati KEM-PPKF sebagai dasar RAPBN 2027, dengan target pertumbuhan 5,8–6,5%...
Penyesuaian Harga BBM Dinilai Jaga Neraca Perdagangan
Penyesuaian harga BBM dinilai memberi ruang fiskal dan memperkuat neraca perdagangan asalkan subsidi tepat s...
Commuter Line Normal saat Aksi di Pusat Jakarta, 72 Personel Siaga
Commuter Line beroperasi normal hingga 13.00 WIB saat aksi di pusat Jakarta; 72 personel siaga dan 406.139 p...
IHSG Menguat ke 6.043,55 pada Jeda Siang, Analis Optimis
IHSG menguat 2,68% ke 6.043,55 pada jeda siang 12 Juni 2026; analis melihat potensi rebound teknikal meski s...
Emas Galeri24 dan UBS Turun Rp27.000 per Gram (12 Juni 2026)
Harga emas Galeri24 dan UBS turun Rp27.000 per gram pada 12 Juni 2026; rincian harga untuk ukuran 0,5–1.000...