Akhir Pekan: Rupiah Menguat 128 Poin ke Rp17.860
Pada penutupan perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,71 persen atau 128 poin menjadi Rp17.860 per dolar AS. Penguatan dipicu oleh pelemahan dolar AS setelah Presiden AS menyatakan membatalkan rencana serangan ke Iran.
Ringkasan pergerakan dan pemicu
Pengumuman pembatalan serangan AS meredakan kekhawatiran geopolitik sehingga menekan dolar AS dan mendorong arus modal ke aset berisiko, termasuk rupiah. Namun klaim kemajuan diplomasi itu masih dibantah Teheran, yang menyatakan belum mengambil keputusan akhir dan masih menutup Selat Hormuz.
"Trump bahkan mengklaim kesepakatan damai dengan Iran mencapai kemajuan. Selat Hormuz bahkan disebutnya akan dibuka kembali untuk pelayaran," ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.
Dinamika global: data AS dan ekspektasi suku bunga
Di sisi lain, data inflasi AS menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Harga Produsen (PPI) Mei tercatat naik 1,1 persen secara bulanan dan 6,5 persen secara tahunan, terdorong kenaikan biaya energi.
"Pelaku pasar memperkirakan sekitar 60 persen kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed pada Desember 2026," kata Ibrahim.
Sentimen ini menjadi penyeimbang antara tekanan keuangan global dan arus modal yang masuk ke aset negara berkembang.
Dampak revisi Bank Dunia terhadap sentimen domestik
Di dalam negeri, pasar menyambut revisi proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga internasional tersebut menaikkan estimasi pertumbuhan 2026 menjadi 5,0 persen dari prakiraan sebelumnya 4,7 persen.
"Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen. Sebelumnya diprakirakan hanya 4,7 persen," ujar Ibrahim.
Revisi ini didorong oleh kinerja triwulan I 2026 yang kuat, terutama konsumsi rumah tangga seiring Ramadan, Idulfitri, pembayaran THR, dan akselerasi program MBG. Ibrahim memproyeksikan konsumsi swasta tumbuh sekitar 5 persen, sementara konsumsi rumah tangga diperkirakan mencapai 8,7 persen sepanjang 2026.
Risiko dan prospek ke depan
Meskipun proyeksi tumbuh membaik, Bank Dunia memberi catatan penting terkait ketergantungan pada konsumsi. Ketergantungan tersebut dapat mempersempit ruang fiskal jika menjadi penopang utama pertumbuhan jangka pendek.
- Beban subsidi yang meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
- Guncangan di pasar keuangan dan pasar modal terkait pengumuman indeks seperti MSCI.
- Ketergantungan pada stimulus fiskal yang membatasi fleksibilitas kebijakan.
Secara keseluruhan, rupiah mendapat dorongan jangka pendek dari meredanya risiko geopolitik, namun tetap rentan terhadap perkembangan inflasi AS dan kebijakan moneter global. Pelaku pasar akan terus memantau data inflasi dan sinyal kebijakan The Fed serta perkembangan geopolitik yang bisa mengubah aliran modal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...