Rupiah Melemah 43 Poin ke Rp17.995, Tekanan Dolar AS Kian Kuat
Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, turun 0,24 persen atau 43 poin ke Rp17.995 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen domestik dan tekanan eksternal, termasuk ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan data ekonomi global yang kurang mendukung.
Penutupan pasar dan angka utama
Pada akhir perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah berada di Rp17.995 per dolar AS. Penurunan sebesar 43 poin menandai berlanjutnya tekanan pada mata uang domestik setelah beberapa pekan volatilitas.
Sentimen domestik
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut beberapa faktor negatif yang menekan rupiah berasal dari dalam negeri. Ia menyoroti kasus korupsi, kekhawatiran fiskal pemerintah, serta kenaikan inflasi yang membebani pasar.
“Memasuki semester II sejumlah sentimen negatif di dalam negeri bermunculan.”
Ibrahim mengingatkan bahwa kombinasi isu fiskal dan meningkatnya risiko domestik memperlemah sentimen investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Selain itu, data aktivitas manufaktur menunjukkan penurunan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia menurut S&P Global turun ke 46,9, masuk zona kontraksi. Penurunan ini utamanya karena melemahnya permintaan terhadap produk manufaktur lokal.
Faktor eksternal yang memperkuat dolar
Dari luar negeri, alat pengukur pasar memperkirakan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed. Perangkat FedWatch memprakirakan probabilitas kenaikan suku bunga mencapai sekitar 67 persen. Tekanan dari ekspektasi moneter AS membuat dolar menguat terhadap banyak mata uang termasuk rupiah.
Data ketenagakerjaan swasta AS menurut ADP juga menambah dinamika pasar. Pada Juni, penggajian sektor swasta bertambah 98 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 113 ribu, namun tetap memberi sinyal pergerakan ekonomi AS yang memengaruhi kebijakan moneter.
Cadangan devisa dan prospek
Lembaga pemeringkat internasional memperingatkan penurunan cadangan devisa Indonesia. Proyeksi menyatakan cadangan devisa pada 2026 hanya cukup untuk membiayai sekitar 4,9 bulan pembayaran eksternal berjalan. Penurunan ini terkait memburuknya neraca perdagangan, kenaikan harga energi global, pembayaran utang luar negeri, dan intervensi bank sentral.
Di sisi geopolitik, pembicaraan antara AS dan Iran di Doha dilaporkan berjalan positif, membahas lalu lintas Selat Hormuz dan pencairan dana Iran. Perkembangan ini turut memengaruhi sentimen pasar global.
Ke depan, rupiah diperkirakan tetap rentan selama tekanan fiskal domestik belum mereda dan ekspektasi suku bunga global belum stabil. Penguatan kebijakan fiskal dan langkah terukur dari otoritas moneter menjadi faktor kunci untuk meredam volatilitas.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Inovasi dan Digitalisasi Kunci UMKM Naik Kelas
Noorahmiati: inovasi, manajemen, dan digitalisasi jadi kunci agar UMKM rumahan dapat naik kelas dan berkelan...
Perayaan HUT RI di Sidodadi Dongkrak Pendapatan UMKM
Perayaan HUT RI Ke-81 di Dusun Sidodadi, Lampung Tengah, meningkatkan pendapatan UMKM hingga tiga kali lipat...
UMKM Malinau Gelar Olahraga Bersama Semarakkan HUT ke-81 RI
Pelaku UMKM di PLB Malinau menggelar senam dan permainan pada 19 Agustus 2026 untuk memeriahkan HUT ke-81 RI...
Gallery Mustika Deli Resmi Dibuka, Ruang Inkubasi UMKM Medan
Gallery Mustika Deli di MPP Medan resmi dibuka (19 Agustus 2026) sebagai ruang promosi dan inkubasi untuk me...
Tips Jualan Stick Mozzarella Homemade di Media Sosial
Tips praktis jualan stick mozzarella homemade di media sosial: foto menggoda, video tarikan keju, caption ef...
Indosolar 2026 Dorong Percepatan Energi Surya di Indonesia
Indosolar 2026 mengumpulkan pemerintah, industri, dan investor untuk percepat pengembangan energi surya dan...