Ekonomi

IKI Juni 2026: Indeks Kepercayaan Industri Capai 52,90

Bagikan:
Pabrik manufaktur dengan mesin dan pekerja; ilustrasi indeks kepercayaan industri

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juni 2026 tercatat sebesar 52,90, menandakan sektor manufaktur Indonesia masih berada dalam fase ekspansi meski menghadapi sejumlah tekanan biaya dan gangguan operasional. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Perindustrian pada Rabu, 1 Juli 2026.

Ringkasan hasil IKI dan maknanya

Angka IKI di atas level 50 menunjukkan optimisme pelaku industri dan keberlanjutan aktivitas produksi. Meski nilai 52,90 tidak jauh di atas ambang ekspansi, pemerintah menilai kondisi ini mencerminkan resiliensi manufaktur di tengah gejolak global.

Tekanan biaya produksi dan gangguan pasokan

Kemenperin menyebut kenaikan harga bahan baku impor yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong biaya produksi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah memperberat biaya pengadaan bahan baku impor.

"Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan. Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," ujar Febri Hendri Antoni Arief.

Gangguan lain yang disorot adalah pemadaman listrik di sejumlah kawasan industri. Insiden ini berdampak langsung pada efisiensi karena beberapa perusahaan terpaksa menghentikan proses produksi sementara.

"Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri menyebabkan sebagian perusahaan harus menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu memengaruhi efisiensi operasional industri," kata Febri.

Kebijakan energi dan dukungan fiskal

Kemenperin menyambut baik langkah penurunan harga gas hasil regasifikasi LNG yang diinisiasi oleh DPR. Kebijakan tersebut diharapkan memperbaiki daya saing manufaktur, khususnya bagi perusahaan yang berada dalam skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

"Penurunan harga gas industri hasil regasifikasi LNG tersebut menjadi angin segar bagi industri. Khususnya industri yang menggunakan gas sebagai sumber energi maupun bahan baku produksi," ucap Febri.

Selain itu, kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM subsidi disebut turut membantu menahan laju inflasi dan menjaga daya beli masyarakat terhadap produk manufaktur.

"Kami mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo yang tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut memberikan kontribusi penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat terutama daya beli atas produk manufaktur," ujar Febri.

Prospek permintaan dan ekspor

Di tengah tantangan, permintaan ekspor nonmigas dilaporkan masih tumbuh positif. Kondisi ini menjadi penopang penting bagi pabrik-pabrik yang berorientasi ekspor.

"Kami melihat permintaan ekspor nonmigas masih tumbuh positif. Di tengah berbagai tantangan global, kondisi ini memberikan optimisme bahwa industri manufaktur Indonesia masih memiliki peluang untuk terus berkembang," kata Febri.

Secara keseluruhan, kombinasi pasar domestik yang besar, dukungan belanja pemerintah, dan perbaikan prospek ekspor menjadi fondasi bagi keberlanjutan ekspansi industri. Namun, pelaku industri tetap perlu mewaspadai risiko geopolitik, fluktuasi nilai tukar, dan gangguan pasokan energi yang dapat menekan pertumbuhan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait