Tekanan Dolar AS, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, dan mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Data pasar menunjukkan rupiah turun 0,17 persen atau 31 poin menjadi Rp17.983 per dolar AS setelah penutupan kemarin di Rp17.952.
Pergerakan pasar hari ini
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS. Kenaikan imbal hasil obligasi AS mendorong permintaan terhadap mata uang safe-haven tersebut.
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan tekanan masih berlanjut. Ia memprediksi pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS.
Faktor pendorong
Beberapa faktor yang menekan rupiah tercatat jelas. Pertama, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga the Fed yang menaikkan imbal hasil obligasi AS. Kedua, sentimen domestik yang belum pulih akibat jual asing di pasar modal.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS. Kenaikan imbal hasil didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed,"
"Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing di pasar modal,"
Pada Rabu terjadi aliran modal keluar dari pasar saham sebesar Rp548 miliar. Selain itu, indikator manufaktur menunjukkan tekanan. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) untuk Juni berada di level 46,9, di bawah batas ekspansi 50.
Data makro yang diamati pasar
Pasar sedang menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat malam ini, termasuk Non-Farm Payrolls (NFP). Hasil NFP berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan mempengaruhi arah rupiah.
Di dalam negeri, neraca perdagangan Mei 2026 dilaporkan defisit. Inflasi Juni juga meningkat, dipicu kenaikan harga bahan bakar minyak.
- PMI manufaktur: 46,9 (zona kontraksi)
- Aliran modal keluar pasar saham: Rp548 miliar
- Perkiraan rentang rupiah: Rp17.900-Rp18.050
- Indeks dolar AS dipantau di kisaran 101,3-101,4
Implikasi dan prospek
Jika data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan pekerjaan, imbal hasil obligasi kemungkinan naik lagi. Kondisi itu berpotensi memperdalam pelemahan rupiah menuju atau di atas level Rp18.000.
Sementara itu, pemulihan sentimen domestik bergantung pada berhentinya aliran jual asing dan perbaikan data ekonomi domestik. Pelaku pasar akan terus memantau data NFP dan rilis domestik berikutnya untuk menilai arah jangka pendek rupiah.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Kemendag Turunkan Harga Referensi CPO Juli 2026 jadi USD1.000,90
Kemendag tetapkan harga referensi CPO Juli 2026 sebesar USD1.000,90/MT, turun 2,78%; BK USD148/MT dan PE 12,...
MRT Jakarta Layani 567.633 Pelanggan saat Tarif Rp1 HUT 499
MRT Jakarta melayani 567.633 pelanggan saat tarif khusus Rp1 pada 22, 27, dan 28 Juni 2026 untuk HUT Jakarta...
Kemendag Turunkan HPE dan HR Emas Periode I Juli 2026
Kemendag menurunkan HPE dan HR emas untuk periode 1-14 Juli 2026 karena penguatan dolar AS dan kenaikan imba...
Kemenekraf dan DANA Perluas Pemberdayaan Perempuan UMKM
Kemenekraf dan DANA perkuat pemberdayaan perempuan UMKM lewat SisBerdaya dan DisBerdaya, jangkau 16.000+ pes...
KAI Services Bagikan Bingkisan HUT ke-23 di Jawa dan Sumatra
PT KAI Services membagikan bingkisan HUT ke-23 kepada pekerja dan warga sekitar di Jawa dan Sumatra lewat pr...
BRI Insurance Raih Penghargaan Indonesia Excellence GCG 2026
BRI Insurance meraih penghargaan Indonesia Excellence GCG Awards 2026 atas penerapan tata kelola yang menduk...