RPOJK Demutualisasi BEI Tunggu Harmonisasi Kementerian Hukum
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjalani proses harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan kini menunggu penyelesaian. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Kamis, 17 September 2026 oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK.
Status harmonisasi dan proses pengundangan
Menurut OJK, harmonisasi RPOJK telah dilakukan dan tinggal menunggu finalisasi dari Kementerian Hukum. Setelah proses itu selesai, RPOJK akan ditetapkan oleh Ketua OJK dan kemudian diundangkan.
POJK saat ini telah dilakukan harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan menunggu proses penyelesaian harmonisasi dari Kementerian Hukum. Untuk selanjutnya dapat ditetapkan oleh Ketua OJK dan dilakukan pengundangan
Isi utama RPOJK: penerbitan saham dan batas kepemilikan
RPOJK Demutualisasi membuka ruang bagi BEI untuk menerbitkan saham baru atau menjual kembali saham hasil pembelian kembali. Selain itu, aturan menetapkan batas maksimum kepemilikan saham BEI sebesar lima persen, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ketentuan ini menjadi bagian dari pengaturan kepemilikan dan struktur permodalan bursa. RPOJK juga mengatur bahwa BEI dapat melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) setelah memperoleh persetujuan dari OJK.
Dividen, hak suara, dan kewenangan OJK
RPOJK mengatur mekanisme pembagian dividen kepada pemegang saham BEI. Pembayaran dividen wajib memperhatikan pembentukan dan pemupukan dana cadangan untuk operasional serta pengembangan bursa.
Dalam klasifikasi saham, setiap satu saham BEI memberikan satu hak suara kepada pemegangnya. OJK juga diberikan kewenangan untuk membatalkan secara otomatis hak pemegang saham dalam kondisi tertentu, menurut penjelasan OJK.
Implikasi dan prospek penguatan tata kelola
Pengaturan demutualisasi ini diharapkan memberikan kepastian mengenai kepemilikan, hak suara, dan tata kelola saham Bursa Efek. Dengan batas kepemilikan dan ketentuan persetujuan IPO, RPOJK bertujuan memperkuat struktur dan pengelolaan bursa ke depan.
Setelah harmonisasi dengan Kementerian Hukum rampung dan pengundangan dilakukan, regulasi ini akan menjadi acuan bagi transformasi struktur kepemilikan BEI.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...