Nasional

Menteri PU Percepat Rehabilitasi Dua Jembatan di Flores

Bagikan:
Ilustrasi perbaikan jembatan pascagempa di Flores dengan alat berat di lokasi

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menginstruksikan percepatan rehabilitasi dua jembatan vital terdampak gempa di Pulau Flores: Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai dan Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur. Instruksi ini dikeluarkan untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi barang, termasuk pasokan bahan bakar dari Pelabuhan Reo. Rehabilitasi Jembatan Wae Pesi ditargetkan mulai paling lambat pertengahan September 2026.

Prioritas: Jembatan Wae Pesi

Jembatan Wae Pesi berada pada ruas Ruteng–Reo–Kedindi yang terhubung langsung ke Pelabuhan Reo. Pelabuhan itu memiliki depo Pertamina yang menjadi jalur penting distribusi bahan bakar bagi kawasan sekitar. Karena itu, pemulihan jembatan ini menjadi prioritas untuk menjaga pasokan dan mobilitas.

Hasil pemeriksaan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Timur mengidentifikasi beberapa kerusakan pada struktur jembatan. Tim teknis sedang mendatangkan peralatan dari Jakarta untuk mempercepat pekerjaan.

“Wae Pesi ini secara keseluruhan terdampak paling parah, kita berusaha merehabilitasi dengan cepat. Saat ini sedang mendatangkan alat dari Jakarta, mudah-mudahan paling lambat pertengahan September kita sudah mulai melakukan rehabilitasi,”

Peninjauan Jembatan Wae Dampek

Jembatan Wae Dampek membentang sepanjang 60 meter di atas Sungai Wae Laing, dengan konstruksi rangka baja pada ruas Wae Gongger–Batas Kabupaten Manggarai–Pota. Menteri PU meninjau kondisi oprit dan bagian bawah jembatan untuk memastikan rencana perbaikan tepat sasaran.

Pemeriksaan lapangan menjadi bagian dari upaya pemulihan infrastruktur pascagempa, sekaligus untuk menentukan metode perbaikan yang sesuai dengan karakteristik wilayah yang sering diguncang gempa.

Skala kerusakan dan upaya pemulihan

Berdasarkan data per 20 Agustus 2026, gempa di Flores berdampak pada sejumlah ruas dan infrastruktur jalan nasional. Kerusakan yang tercatat antara lain:

  • 11 ruas jalan nasional terdampak;
  • 64 titik longsoran;
  • 7 titik patahan badan jalan;
  • 14 unit jembatan dan deuker rusak.

Untuk mempercepat pemulihan akses, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT telah memobilisasi peralatan berat dan jembatan darurat. Langkah yang diambil meliputi:

  • 12 unit ekskavator dan 4 unit loader yang sudah dikerahkan;
  • mobilisasi jembatan Bailey dari Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan;
  • pemulihan fungsional seluruh ruas jalan nasional di Pulau Flores agar kendaraan dapat melintas.

Prinsip pembangunan kembali

Menteri Dody menekankan bahwa pemulihan bukan sekadar memperbaiki kondisi sebelum gempa. Pembangunan kembali harus mempertimbangkan risiko gempa di Flores dan meningkatkan daya tahan struktur.

“Ini adalah daerah gempa, jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya. Prinsipnya kita harus membangun dengan lebih baik lagi, tetapi dengan lebih cepat,”

Prinsip build back better diterapkan agar jembatan yang direhabilitasi memiliki kualitas dan ketahanan lebih baik terhadap gempa di masa mendatang.

Pemulihan dua jembatan ini merupakan bagian lanjutan untuk memperkuat konektivitas dan memastikan distribusi barang serta mobilitas masyarakat kembali stabil setelah bencana.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait