Rapa'i Uroh: Warisan Budaya Aceh yang Tetap Hidup di Langsa
LANGSA — Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa, Drs H Mursyidin Budiman, menegaskan bahwa Rapa'i Uroh adalah warisan budaya Aceh yang masih hidup dan dihargai masyarakat. Pernyataan itu disampaikan saat wawancara penelitian dengan dosen Unsam, Dodi Irwansyah, di Kantor MAA Kota Langsa, Selasa (19/5). Ia menjelaskan Rapa'i Uroh bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan memuat nilai adat, dakwah, dan kebersamaan.
Rapa'i Uroh sebagai identitas dan media dakwah
Menurut Mursyidin, tradisi ini menjadi bagian identitas masyarakat Aceh yang diwariskan turun-temurun. Ia menekankan bahwa syair dalam pertunjukan kerap memuat pesan moral dan ajakan menjaga akhlak. Selain unsur hiburan, peran dakwah menjadi elemen penting yang membuat Rapa'i relevan di berbagai kesempatan.
“Rapa’i Uroh memiliki nilai budaya dan religius yang kuat. Di dalamnya ada pesan dakwah, persatuan, semangat gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat Aceh,”
Peran maestro dalam pelestarian
MAA menilai keberadaan maestro seni tradisional memegang peran sentral. Para maestro tidak hanya mengajarkan teknik memainkan rapa'i, tetapi juga menanamkan nilai moral dan filosofi budaya kepada generasi muda. Mereka bertindak sebagai penghubung antara generasi lama dan baru agar tradisi tidak hilang.
“Para maestro menjadi penghubung antara generasi lama dengan generasi muda. Mereka menjaga agar tradisi ini tidak hilang ditelan perkembangan zaman,”
Fungsi sosial Rapa'i dalam masyarakat
Rapa'i Uroh kerap tampil dalam berbagai acara adat, kegiatan keagamaan, penyambutan tamu, hingga perayaan masyarakat. Pertunjukan tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan ruang silaturahmi yang mempererat kebersamaan warga. Dahulu, antusiasme masyarakat membuat acara berlangsung hingga larut malam.
- Acara adat dan ritual adat
- Kegiatan keagamaan dan dakwah
- Penyambutan tamu dan perayaan komunitas
Tantangan pelestarian
Mursyidin mengakui pelestarian Rapa'i Uroh menghadapi sejumlah tantangan. Pengaruh budaya modern dan menurunnya minat generasi muda menjadi ancaman nyata. Jika tidak ada upaya terstruktur, tradisi berisiko mengalami erosi dalam jangka panjang.
Harapan dan langkah ke depan
Untuk menjaga keberlangsungan, MAA berharap dukungan dari pemerintah, lembaga adat, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan budaya di sekolah dan program pemberdayaan maestro dinilai penting. Ia menegaskan harapan agar generasi muda tidak malu mempelajari budaya sendiri.
“Kita berharap generasi muda tidak malu mempelajari budaya sendiri. Rapa’i harus tetap dijaga sebagai warisan budaya Aceh yang memiliki nilai sejarah dan pendidikan,”
Pelestarian Rapa'i Uroh membutuhkan kolaborasi lintas lembaga dan kebijakan yang konkret agar seni tradisional ini terus menjadi bagian hidup komunitas Aceh.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Cinta, Siswi SD Harapan 1 Medan, Raih Puluhan Prestasi Akademik dan Nonakademik
Luvena "Cinta" siswi SD Harapan 1 Medan konsisten raih prestasi akademik dan lomba nasional sejak 2019 hingg...
DPRD Bandung Kunjungi Bapenda Medan, Fokus Optimalisasi PAD
DPRD Kota Bandung berkunjung ke Bapenda Medan pada 19/8 untuk mempelajari strategi optimalisasi PAD, termasu...
Rico Waas: PWPM Harus Profesional dan Beradaptasi Teknologi
Wali Kota Medan Rico Waas mendorong PWPM profesional dan adaptif ke platform digital saat Raker I PWPM Medan...
10.003 Peserta Meriahkan Pawai Alegoris HUT ke-81 di Langsa
Sebanyak 10.003 peserta dari 105 satuan pendidikan meriahkan Pawai Alegoris, Sepeda Hias, dan Becak Hias HUT...
Sumut: Siswi Keracunan MBG, 120 Rumah Rusak, dan Gempa M6.1
Siswi dirawat dugaan keracunan MBG; 120 rumah rusak di Medan Johor; gempa M6.1 guncang perairan Nias Selatan...
BMA Salurkan Rp32,16 Miliar untuk 6.431 Pelaku Usaha di Aceh
BMA menyalurkan Rp32,155 miliar untuk 6.431 pelaku usaha Aceh hingga Agustus 2026; BMA minta lapor polisi bi...