Lokal

Greenovation SmartBioFertilizer: Ubah Limbah Kolam Lele Jadi Pupuk

Bagikan:
Inovasi pupuk organik cair dari limbah kolam lele oleh Universitas Royal di Asahan

KISARAN — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Royal di Kabupaten Asahan mengembangkan Greenovation SmartBioFertilizer untuk mengolah limbah air kolam lele menjadi pupuk organik cair dan pakan alami. Program pengabdian diterapkan sejak beberapa bulan terakhir pada POKDAKAN Tani Makmur, Desa Tanah Rakyat, Kecamatan Pulo Bandring, untuk menurunkan biaya pakan dan mengelola limbah secara produktif.

Tim, teknologi, dan tujuan

Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab dua masalah utama pembudidaya: tingginya biaya pakan komersial dan limbah kolam yang belum termanfaatkan. Tim pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa yang melakukan penelitian terapan serta pendampingan lapangan.

  • Muhammad Iqbal (dosen)
  • M. Iqbal H. Tambunan (dosen)
  • Andrew Ramadhani (dosen Sistem Komputer)
  • Sekar Mala Humayra (mahasiswa)
  • Muhammad Nofial Afandi (mahasiswa)

Pengolahan memakai wadah fermentasi tertutup berkapasitas 100–200 liter, mikroorganisme pengurai, dan sensor berbasis Internet of Things untuk memantau suhu serta pH secara real time. Fermentasi berlangsung selama 7–14 hari untuk menjaga kualitas produk.

Produksi dan hasil sementara

Hingga bulan keempat, tim mencatat produksi sebanyak 75 liter pupuk organik cair dari dua siklus fermentasi. Produk memiliki tingkat keasaman pH antara 6,5–7,0 dan dikemas awalnya dalam ukuran satu dan lima liter sebagai produk bernilai tambah.

Selain itu, air hasil pengolahan dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman air Azolla microphylla yang menjadi pakan alami bagi ikan lele.

Dampak pada biaya dan kemandirian pakan

Penerapan teknologi menurunkan ketergantungan pada pakan pabrikan sebesar 12% dan menekan biaya produksi bulanan kelompok sekitar 11%. Sebelum program, POKDAKAN masih mengandalkan pelet komersial dengan harga sekitar Rp12.500 per kilogram.

POKDAKAN Tani Makmur mengelola tiga kolam (dua semen, satu terpal). Dalam satu siklus 75–90 hari, kelompok rata-rata menghasilkan sekitar 850 kg lele, atau sekitar 2.550 kg per tahun bila ada tiga siklus panen.

"Pemanfaatan limbah kolam menjadi pupuk organik dan media pertumbuhan pakan alami merupakan upaya untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan teknologi tepat guna, limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah,"

— Muhammad Iqbal.

"Teknologi ini diharapkan membantu pembudidaya menekan biaya operasional sekaligus memanfaatkan limbah kolam agar lebih produktif. Ke depan, pengolahan limbah menjadi pupuk organik dan pengembangan pakan alami diharapkan dapat menjadi bagian dari usaha budidaya yang berkelanjutan,"

— Ketua POKDAKAN Tani Makmur.

Ekonomi sirkular dan prospek

Model Greenovation SmartBioFertilizer mendorong prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah sisa produksi menjadi bahan baku bernilai. Program ini juga mendukung beberapa tujuan SDGs, termasuk ketahanan pangan dan produksi yang bertanggung jawab.

Pelaksanaan mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, serta evaluasi untuk memastikan anggota kelompok dapat mengoperasikan teknologi secara mandiri setelah program berakhir. Tim berharap teknologi ini dapat direplikasi ke kelompok lain di Kabupaten Asahan untuk menekan biaya usaha, mengurangi pencemaran, dan meningkatkan nilai ekonomi budidaya ikan air tawar.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait