MPR Publikasikan Naskah PPHN, Muzani Targetkan Disahkan 2027
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI memublikasikan naskah Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) agar dapat diakses publik dan menerima masukan. Ketua MPR Ahmad Muzani mengatakan naskah itu ditargetkan disahkan menjadi produk hukum pada 2027, setelah melalui kajian dan penyerapan aspirasi masyarakat. Pengumuman disampaikan di kompleks Widya Chandra, Jakarta, Jumat, 29 Agustus 2026.
Publikasi dan akses publik
MPR membuka draf PPHN untuk umum melalui laman yang disiapkan pimpinan dan Sekretariat Jenderal MPR. Publikasi ini dimaksudkan memberi ruang bagi warga dan lembaga untuk memahami isi rancangan serta menyampaikan pandangan.
Rancangan tentang PPHN sudah bisa diakses oleh masyarakat melalui laman yang telah disiapkan oleh pimpinan ataupun Sekretariat Jenderal MPR. Alamatnya nanti akan disampaikan ke hadapan kawan-kawan semuanya,
Tujuan publikasi dan proses kajian
Muzani menyatakan publikasi merupakan bagian dari upaya menyerap aspirasi sebelum pembahasan dilanjutkan. Menurutnya, pimpinan MPR bersama Badan Pengkajian dan Komisi Kajian Ketatanegaraan telah menyelesaikan pembahasan draf dan membuka ruang untuk masukan publik.
Insyaallah tahun depan mudah-mudahan sudah bisa menjadi sebuah produk hukum. Produk hukum tersebut sedang terus kita lakukan dalam kajian-kajian yang makin intensif di antara kami,
Muzani menegaskan masukan diharapkan datang dari berbagai kalangan agar rancangan PPHN mempertimbangkan aspek ketatanegaraan secara menyeluruh.
Siapa dapat memberi masukan
MPR mengundang partisipasi dari publik luas. Pihak-pihak yang diharapkan memberi kontribusi antara lain:
- Perguruan tinggi dan akademisi
- Perseorangan dengan kepedulian pada ketatanegaraan
- Organisasi masyarakat yang fokus pada isu konstitusi dan kebijakan publik
Opsi bentuk hukum dan implikasi
Dalam pembahasan terakhir, opsi bentuk hukum PPHN mengerucut pada Ketetapan MPR (TAP MPR). Sebelumnya, alternatif lain yang sempat dibahas adalah pengaturan melalui undang-undang atau amendemen UUD 1945.
Muzani mengingatkan bahwa pilihan menggunakan TAP MPR membawa konsekuensi ketatanegaraan. Perubahan kewenangan MPR setelah amendemen UUD 1945 pada 2002 menjadi salah satu faktor yang masih dikaji lebih mendalam.
Langkah selanjutnya
MPR menegaskan proses kajian akan terus berjalan intensif sambil tetap menerima masukan publik. Tahap akhir adalah merumuskan bentuk hukum final dan memastikan hasilnya layak disahkan menjadi produk hukum pada 2027.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...