Produksi Padi Jan–Agust 2026 Capai 43,89 Juta Ton
Produksi padi nasional Januari–Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 0,07 persen dibanding periode sama 2025. Data final ini dirilis Badan Pusat Statistik pada 1 Oktober 2026 dan menunjukkan kenaikan luas panen serta produksi beras di tengah tantangan cuaca dan potensi El Nino.
Produksi dan luas panen
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan angka tersebut dihitung berdasarkan luas panen dan produktivitas padi. Perhitungan untuk Januari–Agustus 2026 telah menggunakan data final dan berstatus angka tetap.
“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.
BPS mencatat luas panen periode yang sama mencapai 8,32 juta hektare, naik 0,11 persen dibanding 2025. Peningkatan luas panen ikut menopang produksi padi nasional.
Produksi beras untuk konsumsi
Produksi beras pada Januari–Agustus 2026 tercatat sebesar 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dari tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan ketersediaan beras untuk konsumsi rumah tangga tetap bertumbuh meski ada risiko iklim.
“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” terang Ateng.
Dukungan pemerintah dan mitigasi kekeringan
Produksi dicapai di tengah potensi El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan. Pemerintah mengintensifkan mitigasi melalui pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Potensi panen berikutnya
BPS menyebut produksi September–November 2026 masih berstatus angka potensi dan bersifat sementara. Realisasi akhir akan bergantung pada kondisi lapangan seperti cuaca, organisme pengganggu, banjir, dan kekeringan.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah sentra masih memiliki potensi panen untuk September–November. Daerah-daerah tersebut antara lain:
- Jawa Barat (Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, Bekasi)
- Jawa Tengah dan Jawa Timur (termasuk Ngawi)
- Sumatera (Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh)
- Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah: Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, Banggai)
- Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Timur
Prospek ke depan
Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton hingga Agustus, pertumbuhan produksi nasional tetap berlangsung. Pemerintah menegaskan akan memperkuat langkah mitigasi hingga akhir 2026 untuk menjaga produksi dan produktivitas padi menghadapi tantangan iklim.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
BMKG jelaskan perbedaan kekeringan meteorologis dan hidrologis; 25 wilayah Jatim minta bantuan air hingga aw...
Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
Kemenperin menyiapkan SDM lewat AKB 2026 untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu, memperkuat rantai pa...
HUT ke-81 TNI: Pengendara Diminta Hindari Kawasan Cilangkap
Pengendara diimbau menghindari kawasan Mabes TNI Cilangkap pada Senin 5 Okt 2026 mulai pukul 06.00 WIB karen...
Muhaimin Dorong Perumahan Jadi Ekosistem Ekonomi
Menko Muhaimin mendorong perumahan dikembangkan jadi ekosistem ekonomi melalui 1001 Pasar Rakyat, membuka ak...
Menko Muhaimin Dorong '1001 Pasar Rakyat' untuk Perkuat UMKM
Menko Muhaimin dorong konsep 1001 Pasar Rakyat di Bekasi (4 Okt 2026) untuk memperkuat UMKM, koperasi, dan k...
Kemenko PM: Kolaborasi Kunci Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Kemenko PM: kolaborasi pemilik lahan, local champion, dan pemerintah jadi kunci pemberdayaan UMKM dan ekonom...