Prabowo Bertolak ke Vladivostok, Jadi Tamu Utama EEF ke-11
Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Vladivostok, Rusia, Selasa malam, 1 September 2026, untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 sebagai tamu utama.
Keberangkatan dan rombongan
Pesawat Kepresidenan Garuda-1 lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma sekitar pukul 23.20 WIB. Rekaman resmi dari Sekretariat Presiden menunjukkan keberangkatan berlangsung tertib dengan protokol kenegaraan.
Presiden Prabowo hanya membawa rombongan terbatas pada kunjungan kali ini. Rombongan resmi antara lain terdiri atas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Selain itu ikut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto; Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani; serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Pejabat yang melepas dan hadir
Keberangkatan Presiden juga disaksikan sejumlah pejabat tinggi negara di bandara. Hadir antara lain Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Tampak melepas rombongan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, serta Kepala Badan Intelijen Negara Muhammad Herindra.
Makna peran sebagai tamu utama
Hadirnya Presiden sebagai tamu utama EEF dinilai penting bagi posisi Indonesia di forum ekonomi regional dan global. Kunjungan ini membuka peluang dialog bilateral serta kerja sama investasi dan energi.
"Pada kesempatan kali ini, Presiden Indonesia Bapak Subianto akan menjadi tamu utama dalam Eastern Economic Forum ke-11."
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Yury Ushakov, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin.
Dampak dan tindak lanjut
Selama EEF, delegasi Indonesia berpeluang melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat Rusia dan peserta internasional. Agenda diperkirakan mencakup investasi, energi, dan perdagangan, sesuai komposisi menteri yang ikut.
Setelah forum, pemerintah kemungkinan akan mengevaluasi hasil pertemuan untuk langkah diplomasi dan ekonomi berikutnya.
Keberangkatan ini menandai salah satu momen diplomasi penting bagi Indonesia pada 2026 dan menjadi langkah strategis dalam penguatan kerja sama bilateral serta multilaterai.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bima Arya: Humas Pemerintah Harus Baca Percakapan Publik
Wamendagri Bima Arya minta humas pemerintah beralih ke komunikasi dua arah dan aktif membaca percakapan publ...
Prabowo Bahas Usulan Gelar dan Tanda Kehormatan di Hambalang
Presiden Prabowo menerima Fadli Zon di Hambalang untuk membahas usulan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormat...
Kemenag: Waspadai Jasa Nikah Siri yang Marak di Medsos
Kemenag mengimbau masyarakat tidak tergiur jasa nikah siri di media sosial karena dokumen biro jasa tak puny...
Satwa Masuk Pemukiman Akibat Karhutla di Kalimantan
Karhutla memaksa satwa keluar habitat dan masuk pemukiman di Kalimantan; evakuasi terkendala api, warga dimi...
Presiden Pimpin Ratas soal Peningkatan Kualitas Hunian di Hambalang
Presiden pimpin ratas di Hambalang membahas langkah meningkatkan kualitas hunian dan lingkungan melalui kebi...
Bulog Pastikan Bantuan Jangkau Seluruh Wilayah Terdampak Gempa NTT
Bulog menyatakan penyaluran beras dan minyak untuk penyintas gempa NTT berjalan lancar dan telah mencapai se...