Ekonomi

PMI Manufaktur Agustus Turun Jadi 49,8, Optimisme Menguat

Bagikan:

PMI manufaktur Agustus 202649,8, turun dari 50,2 pada Juli 2026, kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, Selasa, 1 September 2026. Penurunan ini ditengarai akibat penyesuaian produksi dan upaya efisiensi tenaga kerja di tengah persaingan pasar lokal yang ketat, namun permintaan baru dan kepercayaan bisnis menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Pergerakan PMI Agustus

Kemenperin menyatakan angka PMI yang sedikit di bawah ambang 50 mencerminkan kontraksi ringan pada aktivitas manufaktur. Meski demikian, faktor penyesuaian kapasitas dan efisiensi menjadi penyebab utama pergerakan tersebut, bukan penurunan permintaan yang tajam.

Optimisme dan permintaan baru

Berdasarkan laporan S&P Global, permintaan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Kenaikan ini diikuti oleh peningkatan optimisme pelaku industri yang mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

PMI manufaktur pada Agustus memang kembali berada sedikit di bawah level 50. Namun, kita juga melihat adanya peningkatan tipis pada permintaan baru dan kepercayaan bisnis yang terus membaik

Febri menilai optimisme itu menjadi modal penting bagi produsen untuk menjaga kesinambungan produksi dan memanfaatkan peluang pasar yang mulai terbuka. Pelaku usaha yang disurvei juga memperkirakan permintaan akan lebih kuat dalam 12 bulan mendatang.

Peluang ekspor lewat IEU-CEPA

Salah satu peluang pasar yang semakin penting datang dari Uni Eropa melalui proses penandatanganan dan ratifikasi perjanjian IEU-CEPA. Perjanjian ini membuka peluang akses yang lebih luas bagi produk Indonesia ke Eropa dan dapat meningkatkan daya saing produk nasional.

  • Produk tekstil dan pakaian jadi
  • Alas kaki
  • Elektronik
  • Produk kayu dan olahannya

Kita memanfaatkan penurunan tarif masuk dan penyelarasan standar kualitas. Agar produk ekspor nasional mampu bersaing ketat dengan kompetitor dari negara lain di Eropa

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Sri Bimo Pratomo, mengatakan Kemenperin siap memfasilitasi pendampingan standar keberlanjutan dan sertifikasi hijau untuk pelaku industri sehingga produk nasional memenuhi regulasi pasar Eropa.

Kebijakan untuk menjaga keseimbangan

Selain dorongan ekspor, pemerintah juga menerapkan kebijakan Pertimbangan Teknis untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan domestik. Instrumen ini dianggap penting untuk mengantisipasi tekanan pada permintaan produk industri dalam negeri di tengah persaingan global.

Perbaikan keyakinan atau optimisme ini menjadi modal penting bagi industri untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus menangkap peluang pasar yang semakin terbuka. Pemerintah akan terus memastikan iklim usaha dan kebijakan industri dapat mendukung peningkatan daya saing manufaktur nasional

Dengan adanya sinyal pemulihan permintaan dan akses pasar baru, fokus pemerintah tetap pada peningkatan standar produksi dan dukungan kebijakan agar manufaktur nasional mampu memaksimalkan peluang ekspor sekaligus menjaga stabilitas pasar domestik.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait