Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.744, Tekanan dari Konflik AS-Iran

Bagikan:
Ilustrasi rupiah melemah dan tekanan pasar akibat konflik AS-Iran

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa, 1 September 2026. Rupiah turun 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara AS dan Iran serta sentimen pasar terhadap kebijakan moneter AS.

Penutupan dan penyebab utama

Pelemahan rupiah lebih didorong faktor eksternal. Pasar merespons ancaman baru dan serangan timbal balik antara AS dan Iran yang meningkatkan risiko geopolitik di Timur Tengah.

"AS dan Iran kembali saling serang untuk pertama kalinya, setelah sebulan ketegangan mereda. Hal tersebut membuat situasi di Timur Tengah kembali memanas," kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.

Dorongan dari ekspektasi suku bunga The Fed

Selain geopolitik, pidato Ketua the Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole dinilai hawkish. Pernyataan itu mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor pendek.

"Pernyataan Warsh membuat dolar AS menguat tajam dan imbal hasil obligasi AS tenor pendek ikut naik. Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September," ujar Ibrahim.

Peluang kenaikan tersebut melonjak dibandingkan sebelum pidato, yang tercatat di sekitar 38 persen. Investor kini lebih mewaspadai perubahan suku bunga jangka pendek.

Data domestik: PMI, inflasi, dan perdagangan

Di dalam negeri, rilis data ekonomi belum mampu meredam pelemahan rupiah. PMI manufaktur Indonesia turun ke 49,8 pada Agustus, kembali ke zona kontraksi setelah 50,2 pada Juli.

"S&P mencatat pelemahan PMI manufaktur Indonesia di bulan Agustus terutama dipengaruhi oleh output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir," kata Ibrahim.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen bulan ke bulan dan 3,19 persen secara tahunan. Di sisi perdagangan, neraca kembali mencatat surplus USD120 juta pada Juli setelah defisit USD450 juta pada Juni. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, surplus tercatat sekitar USD3,7 miliar.

Prospek dan fokus pasar

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau data tenaga kerja AS, termasuk survei JOLTS dan No-Farm Payrolls yang akan dirilis Jumat mendatang. Data tersebut dinilai krusial untuk mengonfirmasi ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di sisi domestik, perbaikan PMI dan data ketenagakerjaan menjadi kunci untuk menopang penguatan rupiah jika ketegangan geopolitik mereda.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait